• SMA KATOLIK RICCI I
  • Respect Integrity Caring Citizenship Initiative

Karya Literasi Siswa/Cerpen/ALUNAN MELODI

ALUNAN MELODI 
Sebuah Cerpen dari Emily Djajadi
kelas XII IPS 2

 

 

Angin berhembus kencang, mengibaskan rambut panjangku yang terurai bebas. Aku berjalan menelusuri padatnya pusat perkotaan bersama ayah dan juga boneka kesayanganku, Miti. Terik sinar mentari terhalangi oleh rindangnya pepohonan, membuat perjalanan yang kami tempuh di selimuti dengan udara yang sejuk dan menyegarkan. Aku tidak tahu kemana ayah menuntunku, kulihat banyak orang yang berlalu-lalang dan sibuk dengan dunia mereka masing-masing.

Berbagai jenis kendaraan yang memadati sepanjang jalan. "Ayah, kemana kita akan pergi?"

"Ke suatu tempat dan di sana ada seseorang yang sangat amat kamu sukai. Cycterine sayang, tunggu sebentar lagi ya. Kita akan sampai dalam beberapa menit. Anak ayah belum lelah bukan?"

Aku menggelengkan kepala dan ayah tersenyum simpul padaku. Bagiku senyuman ayah sudah cukup untukku, cukup untuk membuatku nyaman dan percaya pada ayah. Ayah tidak pernah berkata bohong, dan aku tahu itu. Aku sangat mempercayai ayah. Dalam perjalanan, kedua mataku terpaku pada sebuah poster bergambar seorang wanita dengan parasnya yang cantik dan bentuk tubuh yang indah. Wanita itu mengingatkanku pada ibu, walau aku tidak pernah bertemu dengan ibu. Aku yakin sekali kalau ibu tidak kalah cantik dengan wanita itu. Karena itu ayah tertarik pada ibu bukan?

Ayah menghentikan langkahnya dan terdiam ketika melihat poster itu. Ayah menatapnya lekat- lekat, tak lama senyuman terukir di wajahnya. Pasti ayah teringat dengan ibu, sama sepertiku. Alunan melodi yang indah, nada-nada yang tercipta berasal dari sebuah piano. Melodi yang indah sungguh memikatku. Ingatan dimana aku memainkan piano bersama ayah dan menciptakan kenangan indah bersama melalui melodi-melodi yang kami ciptakan. Ketika kesepian melandaku disaat ayah sibuk dengan pekerjaannya, ku salurkan dengan memainkan alat musik dan terciptalah alunan melodi yang membuatku tidak kesepian.

Tanpa aku sadari, kulepaskan pegangan tangan ayah dari tangan kecilku. Kedua kakiku membawa kuterseret dalam indahnya melodi dan tidak memperdulikan sekitarku. Langkah kakiku terhentikan ketika aku mendengar teriakan ayah.

"Cycterine, menyingkirlah dari sana!!"

 

Aku melihat sebuah mobil dengan kecepatan tinggi ke arahku. Kedua kakiku rasanya terpaku dan tak dapat aku gerakkan. Aku terlalu takut untuk melakukannya. Aku memejamkan kedua mataku rapat-rapat, siap untuk menahan rasa sakit. Aku tidak tahu apa yang terjadi, hanya saja rasa sakit yang aku alami tidaklah sesakit yang aku bayangkan. Kepalaku rasanya pening sekali, duniaku terasa berputar mengelilingiku dan pandanganku mulai kabur. Yang terakhir kali aku lihat adalah banyak orang yang mengerumuni diriku, setelah itu perlahan-lahan semuanya

 

menghitam.

 

***

 

Pepohonan yang menjulang tinggi, merupakan hal yang pertama kali aku lihat, ketika aku membukakan kedua mataku. Aku terbangun di suatu tempat yang tidak ku ketahui dan aku juga tidak tahu apa yang terjadi padaku, tetapi aku bisa menyimpulkan bahwa aku berada di suatu hutan, mungkin saja. Alunan melodi terdengar olehku. Rasanya aku pernah mendengarnya di suatu tempat. Aku ikuti melodi itu dan alunan melodi itu berasal dari dalam sebuah pohon besar. Pohon ini memberiku kesan kehangatan. Aku sentuh pohon itu, seketika cahaya yang bersinar terang menjalar dan menyelimuti tubuh pohon itu. Indah kata yang tepat untuk mendeskripsikannya. Tiba-tiba sebuah pintu terbentuk. Aku buka pintu itu, kehadiranku disambut oleh sesosok bayangan berwarna hitam dengan postur manusia, wajah yang dihiasi dengan mata dan mulut. Tanpa adanya hidung ataupun telinga. Anehnya, aku tidak merasa takut. Melainkan terpancar aura yang membuatku nyaman didekatnya.

"kemarilah, gadis kecil. "

 

Ia mengulurkan tangannya padaku. Aku sempat ragu untuk menggapainya. Di balik pintu itu, terlihat sebuah ruangan yang berwarna putih polos, tidak menandakan adanya kehidupan di dalam sana. Apakah dia sesosok yang baik atau tidak? aku pun tidak mengetahui hal itu. Tapi ada sesuatu yang terpancar dari dalam dirinya yang membuatku percaya kepadanya, sehingga aku tak segan untuk menggapai tangannya. Dia mempersilahkan aku masuk kedalam. Ketika aku menapakkan kaki kecilku dalam ruangan tersebut, seketika keajaiban terjadi. Ruangan tersebut berubah menjadi ruangan yang penuh dengan warna yang cerah serta buku-buku, piano, lampu yang berada di ruangan tengah menambah kesan kehangatan dan kehidupan. Semua terlihat tidak nyata.

"Apakah kamu tahu aku ada di mana? dan sebenarnya siapa kamu?"

 

Aku kesulitan untuk berbicara padanya, karena tubuhnya yang sangat tinggi sehingga aku harus mendongak untuk bertatap wajah dengannya. Sepertinya dia mengerti apa yang aku rasakan, tak lama ia berlutut di hadapanku.

"Aku merupakan teman imajinasimu dan sekarang kamu berada di alam bawah sadar. Dunia ini merupakan dunia yang kamu ciptakan sendiri."

"Kenapa aku bisa berada di sini? memangnya apa yang terjadi padaku?"

 

"Aku tidak dapat mengatakan yang sebenarnya, tapi yang aku ketahui kamu terjebak di sini dan kamu harus mencari jalan keluarnya. Bagaimanapun caranya. Dirimu yang sebenarnya sedang tertidur lelap. Di sini juga ada peraturan, jangan pernah mengganggu Ratu Clarina. Ia merupakan ratu yang memimpin dunia yang kamu ciptakan. Itu saja yang dapat aku beritahu. Semoga beruntung. Cycterine."

 

Dia pergi meninggalkan aku di sini, dengan banyak pertanyaan yang belum terjawab. Kepergiannya, meninggalkan rasa sakit di hatiku. Rasa rindu dan kehilangan akan seseorang. Siapa? ibu? atau ayah? tidak mungkin. Akupun mengelilingi tempat ini, melihat-lihat dunia yang kuciptakan ini. Ternyata indah juga. Aku coba untuk membuka pintu utama. Tidak ada hasilnya. Terkunci, inikah sebabnya aku harus mencari jalan keluarnya?

Dengan membaca buku pastinya akan memberiku petunjuk, masih banyak bagian dari dunia ini yang tidak aku ketahui. Aku sibuk memilih buku, hingga mataku terpaku pada satu buku. Buku itu berjudul album foto. Aku raih buku itu, debu-debu melapisi permukaan buku. Ketika aku buka, ada foto seorang pria tampan dengan wanita yang teramat cantik. Mereka terlihat bahagia, mereka saling mengaitkan tangan mereka. Semakin lama ku perhatikan, pria ini seperti ayah.

Kalau benar ini ayah, maka wanita itu.. adalah ibu. Cantiknya. Senyuman mengembang di wajahku, aku senang sekali bisa melihat ibu. Walau hanya dari sebuah foto. Tapi semakin ke belakang foto ayah dan ibu. Tidak terlihat kembali. Terakhir hanya foto ayah seorang.

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku di sini. Langit biru tidak pernah tergantikan dengan langit malam. Begitu pun dengan diriku, aku tidak pernah merasa lelah. Sesekali aku melihat Ratu Clarina yang berjalan kesana kemari dengan anggunnya. Aku tidak berani untuk mendekatinya, peraturan ada untuk di taati. Piano merupakan teman keduaku, selain bayangan hitam. Aku sering meluapkan perasaan gundahku dan tercipta berbagai lagu tanpa adanya lirik. Hanya melodinya saja. Dengan meluapkan seluruh perasaanku pada alat musik, perasaanku akan jauh lebih baik, seperti kata ayah. Bayangan hitam sering menemani aku, membuatku merasa terlindungi dan nyaman.

Hari ini aku terlalu bingung untuk menemukan jalan keluar sehingga aku memilih untuk menekan tuts-tuts piano. Tak lama bayangan hitam datang dan menemaniku menciptakan melodi yang indah. Bayangan hitam selalu ada untukku. Di saat sukar maupun ketika aku sedang senang.

"Cycterine, aku ingin tahu apakah kamu memiliki keluarga? bagaimana kehidupanmu sebelum kamu terjebak di sini?"

"Aku memiliki keluarga, tapi tidak memiliki anggota keluarga yang lengkap. Aku hanya tinggal bersama ayah, ayah yang merawatku selama ini. Kalau ibu, aku tidak tahu. Ayah pernah berkata bahwa ibu pergi meninggalkan kita. Aku tidak tahu arti dari kata 'pergi ' itu sendiri. Aku tidak pernah menanyakan hal itu pada ayah, selama ayah ada di sisiku itu sudah lebih dari kata cukup. Ayah juga tidak mungkin berbohong."

Bayangan hitam berhenti menekan tuts-tuts piano dan membelai rambutku dengan penuh kasih sayang. Menatapku dengan tatapannya yang meneduhkan.

"Kamu anak yang kuat Cycterine. Ayahmu pasti sangat menyayangimu"

 

Aku ingin mengatakan 'ya' tapi, tidak ada sepatah kata pun terlontar dari mulutku. Aku tahu ayah

 

menyayangiku. Hanya saja jika iya, kenapa ayah tidak berusaha membagunkanku dan mencariku kesini. Tidak adanya tanda-tanda kehadiran ayah. Aku beranjak pergi dan menjauhi bayangan hitam. Aku butuh waktu untuk diriku sendiri. Terlalu banyak yang terjadi dan rumit. Aku ingin membaca buku lagi, untuk mengisi kekosongan hatiku dan kosongnya waktu yang kupunya. Buku itu terlapisi corak kupu-kupu, aku menggapai buku itu dan ketika aku tarik, rak buku di sudut ruangan terbuka. Aku hampiri dan ada sebuah pintu yang berwarna emas.

Sebelum tanganku menyentuh gagang pintu itu, seorang wanita terlebih dahulu membukanya. Aku terpukau dengan parasnya yang cantik dan betapa menawan dirinya. Wajahnya sangat familiar untukku. Rasanya aku pernah melihatnya. Ah, dia adalah wanita yang ada didalam foto bersama ayah.

"Hei gadis kecil. Siapa kamu? sungguh berani kamu menghadap diriku. Apakah kamu tidak tahu berhadapan dengan siapa?"

"maaf yang mulia, anda merupakan Ratu Clarina. Perkenalkan namaku Cycterine. Gadis kecil yang menciptakan dunia yang kau pimpin saat ini."

Kedua matanya membulat. Tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Terlebih lagi, Ratu Clarina terlihat terkejut ketika aku sebutkan namaku. Persekian detik berikutnya seringai licik terpampang di wajahnya yang mulus dan cantik.

"Oh begitu. Dimana ayahmu? apakah ayahmu tidak pernah menceritakan diriku padamu? sampai kau tidak mengenaliku sama sekali."

Sebelum aku bisa berkata-kata lebih jauh, bayangan hitam berdiri di depanku. Entah muncul dari mana. Ia terlihat sangat protektif kepadaku.

"Hentikan Clarina. Biarkan dia pergi, lepaskan dia. Dia hanya anak kecil yang tidak tahu apa-apa dan tidak bersalah. Ini salahku. Salah kita."

Bayangan hitam berbicara padanya tanpa ada embel-embel 'ratu'. Sedekat apa hubungan mereka? sebenarnya apa yang terjadi. Aku benar-benar kehilangan arah.

"Carlott, apa maksudmu? apakah kamu menceritakan kebenarannya? kenapa ia lahir tanpa memiliki seorang ibu disampingnya. Aku yakin sekali kamu hanya mengatakan kebohongan tanpa adanya kebenaran sedikit pun. Cycterine sayang, akulah ibumu. Aku yang melahirkanmu dan bayangan hitam itu merupakan ayahmu. Aku dan ayahmu saling mencintai, tapi kami terlarut dalam nikmatnya bercinta. Sehingga aku mengandung dirimu.Tanpa adanya ikatan pernikahan pada saat itu. Aku memiliki karir musik yang sedang naik daun dan ayahmu melamarku. Tapi aku lebih memprioritaskan karirku. Dan aku tolak lamaran ayahmu. Aku mengandungmu selama 9 bulan, selama itu juga aku vakum dari dunia permusikan. Itupun terpaksa. Hingga tiba saatnya aku melahirkanmu. Ayahmu datang dan tetap bersikeras melamarku, menjanjikan kebahagian. Untukku kebahagian bukan bersama ayahmu, tetapi ketika aku bisa menciptakan keindahan melodi, sehingga aku tolak. Lagi. Dan aku menyerahkan dirimu

 

kepada ayahmu. Aku tidak ingin karirku redup hanya karena aku memiliki seorang putri. Ini bukan salahku, tapi ini salahmu Cycterine. Kamu hadir di saat yang tidak tepat. Disaat aku dan ayahmu bahagia, semua terasa indah, sampai kamu hadir di tengah-tengah kami. Jadi ini bukan salah kita Carlott, tapi salah gadis ini. Bagaimana apakah kamu membenci ibu?"

"Clarina.Hentikan semua omong kosongmu. Cycterine merupakan anak kandungmu sendiri, teganya kamu berbicara seperti itu padanya. Dia tidak tahu apa-apa Clarina. Ini bukan salahnya. Jangan menyalahkan dia, jangan kamu menyalahkan dirinya atas semua perbuatanmu. Kamu tidak tahu betapa beratnya hidup tanpa seorang ibu."

Jadi, selama ini ayah berbohong? Ratu Clarina merupakan ibuku. Apa yang di ceritakan oleh ayah tentang ibu. Semuanya bertolak belakang. Ibu tidak menyayangiku, bahkan ibu membenciku. Ayah................................... kenapa ayah harus merahasiakan ini semua dariku? apakah ayah tidak

sayang padaku? aku ini merupakan sebuah kesalahan... Ibu yang aku inginkan bahkan tidak

menginginkanku. Aku mengukir senyuman setulus mungkin di wajahku, walau ada banyak kesedihan yang tersembunyi dibaliknya.

"Aku... aku tidak membenci ibu. Sampai kapanpun itu, aku tidak akan pernah bisa membenci ibu.

Ayah selalu mengatakan padaku untuk tidak membenci ibu, apapun alasan ibu meninggalkan kami. Meninggalkan aku. Aku tidak sanggup membenci ibu, rasa sayang ku terlalu besar di bandingkan dengan rasa benci ini. Sebaliknya aku merasa sangat beruntung dapat bertemu dengan ibu, walau ibu tidak ingin bertemu denganku. Aku senang sekali ternyata ibu itu sangatlah cantik. Aku akan selalu menyayangimu. Ibu."

Ibu hanya diam, seakan dirinya itu membisu. Keangkuhan yang kurasakan dari dirinya mulai sirna. Caranya menatapku juga mulai melembut. Aku tidak tahu apakah ibu tergerak mendengar perkataanku. Cairan bening mengalir dengan derasnya dari kedua matanya. Pertahanan ibu runtuh. Ibupun pergi. Tanpa meninggalkan jejak.

Aku tidak lagi dapat mempertahankan senyuman ini. Aku ingin menangis dan lari. Lari dari kenyataan yang terlalu berat untukku hadapi. Ayah, aku pikir aku bisa mempercayaimu. Ternyata ayah sendiri berbohong. Kebenaran yang di katakan ayah, di selimuti dengan kebohongan. Aku tidak ingin ayah melihatku menangis, aku tidak ingin ayah melihatku lemah seperti ini. Maka aku lari sejauh-jauhnya, namun sia-sia. Ayah menangkapku lebih dulu.

"Lepaskan aku, ayah pembohong. Kenapa ayah harus berbohong padaku? kenapa harus aku? ayah bisa mengatakan yang sebenarnya, aku tidak akan marah ataupun sedih. Setidaknya ayah jujur padaku. Aku memang hanya anak kecil, tapi aku bisa mengerti jika ayah jelaskan. Aku ini sebuah kesalahan. Aku ini hasil kesalahan. Ayah tidak lagi sayang padaku.."

Tangisanku pecah, aku menangis tersedu-sedu. Dadaku rasanya sesak, tubuh kecilku bergemetar hebat. Ketakutan, kesedihan, kemarahan menjadi satu. Ayah membawaku kedalam dekapannya.

 

"Maafkan ayah. Ayah tahu ayah salah. Tapi ayah harus berbohong demi masa depanmu yang lebih baik. Demi tidak adanya teman-temanmu yang mengejek dirimu hanya karena memiliki keluarga yang hancur seperti ini. Ayah tidak sanggup melihatmu terluka. Ayah tidak mau kamu terluka, jikalau kamu terluka ayah juga akan merasakannya. Kamu bukanlah sebuah kesalahan, Cycterine merupakan karunia terindah yang pernah ayah harapkan. Kalau ayah tidak menyayangimu, tidak mungkin ayah menyelamatkan Cycterine dari hantaman mobil itu. Lebih baik ayah yang terluka dari pada Cycterine sayang."

Seakan rekaman dimana aku hampir tertabrak mobil terputarkan di ingatan ku. Aku ingat. Aku mulai mengingat sepotong-demi potong.

" Ayah tidak terluka bukan? ayah baik-baik saja? ayah masih hidupkan? ayah tidak akan meninggalkan aku... iyakan... berjanjilah."

Ayah hanya tersenyum sendu. Apa maksud dari senyuman itu, aku tidak ingin kehilangan ayah. Tidak sekarang dan tidak selamanya. Aku terus memeluk ayah, tidak mengendurkannya sedikit pun. Aku takut jika kulepaskan, maka ayah akan menghilang.

"Kamu harus bangun sayang, pergilah dari sini. Tempat kamu bukan di sini. Lanjutkan kehidupanmu. Hiduplah untuk ayah, hiduplah untuk ibumu dan hiduplah untuk dirimu sendiri. Cycterine ingat satu hal ayah selalu menyayangimu dan mengawasimu dari mana saja. Selamat tinggal, Cycterine sayang."

Ayah mengecup keningku berlimpah dengan kasih sayang yang selalu aku rindukan. Kemudian ayah memberiku kunci untuk membuka pintu utama. Aku tidak ingin meninggalkan ayah di sini. Aku berusaha mengajak ayah pergi, tapi dia tidak ingin. Aku tidak ada pilihan lain. Aku membuka pintu utama. Sebelum aku pergi, aku melihat ayah sekali lagi dan ayah sudah bukan dalam wujud bayangan hitam. Sosok manusia. Ayah tersenyum hangat. Aku akan merindukan senyuman hangat itu. Aku akan sangat rindu di mana aku bisa bermain musik dengan ayah dan menciptakan alunan melodi yang indah. Kemudian aku berlari tanpa tujuan, semakin lama semuanya memutih.

"Aku memaafkan mu. Ayah."

 

***

 

Langit-langit ruangan, bukan pepohonan kembali yang aku lihat. Aku ingat semuanya, semua yang terjadi di alam bawah sadarku. Aku merasakan sakit di punggung tanganku, ternyata ada selang infus. Sakit ini, tidak lebih sakit dari rasanya kehilangan ayah yang sangat teramat aku sayangi. Ayah sudah tidak ada. Aku menangis kembali. Walau aku menangis ayah tidak akan kembali. Aku harus kuat. Iya harus kuat. Di sebelahku ada boneka. Miti. Boneka yang ayah berikan padaku. Boneka ini yang akan selalu mengingatkan aku padamu, ayah. Tiba-tiba seorang wanita dengan paras yang cantik datang menghampiriku. Ibu. Aku rindu denganmu, ibu.

"Cycterine... maafkan ibu. Ibu menyesal, atas semua yang telah ibu perbuat. Aku bahkan tidak

 

pantas di katakan seorang ibu. Di saat ayahmu ingin mempertemukan kita, tetapi takdir berkata lain. Maafkan ibu. Kamu boleh membenci ibu, asalkan kamu mau memaafkan ibu. Mari kita membuka lembaran yang baru dan membuat kenangan yang indah bersama. Mari kita ciptakan melodi yang indah."

"Aku tidak membenci ibu dan aku memaafkan ibu. Terimakasih telah mengakui aku ini putrimu. Mari kita buat keluarga yang harmonis dan penuh dengan harmoni keindahan yang menyelimuti kita ibu. Ayah juga pasti senang dan bahagia melihatku bahagia bersama ibu."

Ibu membawaku kedalam dekapannya, dekapan seorang ibu yang selalu aku damba-dambakan hangat sekali dan penuh dengan kasih sayang. Ayah, ayah tidak perlu khawatir denganku.

Sekarang ibu ada disisiku. Aku akan hidup dengan bahagia demi ayah, ibu dan diriku sendiri.






#dipublikasikan Tim Publikasi dan Dokumentasi 
SMA Katolik Ricci 1 Jakarta

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Belajar Khotbah dan Bercerita tentang Benda/Hewan Kesukaan dalam Ekstrakurikuler Literasi

Sidang AkademiMateri Kelas X dan XI : Menceritakan Benda/Hewan Kesukaan Materi kelas XII          : Khotbah   Petugas Kelas X Moderator Sdri. Jomettaver

24/11/2021 15:35 - Oleh Administrator - Dilihat 192 kali
Investasi atau Pemborosan Ketika Membeli barang Limited Edition ? Mari kita Diskusikan

EKSTRAKURIKULER LITERASI : MEMBACA DUNIA LEWAT SEKOLAH   Tema :  Membeli Barang Edisi Terbatas : Suatu Investasi atau Pemborosan?   Petugas Kelas X Moderator Sdra.&nbs

17/11/2021 14:12 - Oleh Administrator - Dilihat 229 kali
BELAJAR PROMOSI DAN BEDAH BUKU DALAM EKSTRAKURIKULER LITERASI RICCI

BELAJAR PROMOSI DAN BEDAH BUKU DALAM EKTRAKURIKULER LITERASI RICCI Sidang Akademi   Materi :  Kelas X : Promosi Barang/Jasa Kelas XI : Promosi Barang Dan Jasa Kelas XII : Beda

10/11/2021 16:58 - Oleh Administrator - Dilihat 230 kali
BERDEBAT TENTANG TELEVISI : MASIKAH TEMAN KELUARGA INI BERTAHAN DI ZAMAN POST-MILENIAL ?

EKSTRAKURIKULER LITERASI MEMBACA DUNIA LEWAT SEKOLAH     PETUGAS KELAS X Moderator  Sdri. Shareen Alika (X.3) Notulis Sdri. Martha Marcella (X.3) Doa / Dirigen Sdr

03/11/2021 17:36 - Oleh Administrator - Dilihat 321 kali
BERBAGI INSPIRASI TOKOH IDOLA DAN PROMOSI DALAM SIDANG AKADEMI

EKSTRAKURIKULER LITERASI RICCI BERBAGI INSPIRASI TOKOH IDOLA DALAM SIDANG AKADEMIK   Petugas kelas X (Tema : Tokoh Idola) Moderator Sdri. Audrey Firshe ( X.3) Notulis Sdri . S

27/10/2021 12:59 - Oleh Administrator - Dilihat 240 kali
Adu Argumentasi Dalam Debat, Penggunaan Pakaian Bekas (Trifting) : Suatu Gaya Hidup Hemat, Benarkah ?

Penggunaan Pakaian Bekas (Trifting) : Suatu Gaya Hidup Hemat, Benarkah ? Debat LiterasiPetugas Kelas X Moderator Sdra. Khemawira Tjahya ( X.1) Notulis Sdra. Jonathan Valentino (X.1

20/10/2021 10:26 - Oleh Administrator - Dilihat 318 kali
BERCERITA KEGEMARAN DAN TOKOH IDOLA DALAM LITERASI

MATERI LITERASI 10 : HOBBY/KEGEMARAN (X,XI) DAN TOKOH IDOLA (XII)   SIDANG AKADEMI   Petugas : Kelas X  Materi : Hoby atau Kegemaran Moderator  Sdri. Chitra

13/10/2021 11:40 - Oleh Administrator - Dilihat 342 kali
BERCERITA TOKOH IDOLA DALAM SIDANG AKADEMI

MATERI LITERASI 9 : TOKOH IDOLA SIDANG AKADEMI   PETUGAS Moderator Sdr Theo Xavier A. W. (XI.1) Notulis Sdri. Celine Woen (XI.1) Doa / Dirigen Sdr. Thomas Alfiantino (XI.1)

29/09/2021 12:34 - Oleh Administrator - Dilihat 303 kali
Materi Literasi 8 : E-COMMERCE : E - Commerce suatu solusi dalam sistem perdagangan ataukah menghasilkan sistem pasar yang monopolistik.

LITERASI RICCI : MEMBACA DUNIA LEWAT SEKOLAH     PETUGAS :    Moderator Sdri Gracella Kurniawan (XII.3) Notulis Sdr. Elvina Budisartono (XII.3) Doa / Dirigen

21/09/2021 11:39 - Oleh Administrator - Dilihat 307 kali
MATERI LITERASI 7 : FILM DOKUMENTER

MATERI LITERASI 7 : Film Dokumenter  LITERASI RICCI ; MEMBACA DUNIA LEWAT SEKOLAH MATERI LITERASI 7   PETUGAS :  Moderator Sdri Elvira Budisartono (XII.3) Notulis Sd

14/09/2021 08:38 - Oleh Administrator - Dilihat 219 kali