• SMA KATOLIK RICCI I
  • Respect Integrity Caring Citizenship Initiative

Literasi guru/artikel/BERKENALAN DENGAN VALUE INVESTING

BERKENALAN DENGAN VALUE INVESTING

oleh : Andreas Purwo Santoso

 (Staff Pengajar SMA Ricci)

  1. Pendahuluan

Ada berbagai macam pilihan bagi seseorang untuk berinvestasi, salah satunya dengan menabung saham. Dewasa ini, lebih mudah bagi seseorang untuk berinvestasi di pasar modal bila dibandingkan dengan masa beberapa dekade sebelumnya. Kemajuan teknologi yang pesat, memungkinkan seseorang untuk membeli atau menjual saham dari aplikasi sekuritas yang tersedia di telepon selular ataupun komputer pribadinya. Di samping juga kebijakan pemerintah yang mengubah nilai 1 lot (satuan dalam perdagangan saham) menjadi 100 lembar saham saja, sehingga menyebabkan harga pembelian saham menjadi menarik, sebagai contoh, jika saham SIDO (PT Sido Muncul, Tbk) dihargai Rp. 750,00 / lembar saham, maka seorang investor hanya memerlukan modal sebesar : 100 lembar x Rp.750,00 = Rp. 75.000,00 untuk membeli 1 lot saham perusahaan tersebut. Tetapi sayangnya, investasi di pasar modal masih menjadi istilah yang asing atau terkesan dihindari oleh sebagian orang. Hal ini tidak terlepas dari stereotipe di masyarakat yang memandang bahwa investasi di pasar modal hanyalah suatu “spekulasi” (judi) semata atau hanya suatu “investasi” untung – untungan saja. Suatu stereotipe yang muncul akibat kurangnya literasi yang ada di masyarakat tentang dunia pasar modal, walaupun memang harus diakui, bahwa resiko kehilangan modal di pasar saham jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan menabung deposito di suatu bank.

 

Benjamin Graham di dalam bukunya yang berjudul  The Intelligent Investor, mengatakan bahwa investasi dan spekulasi adalah dua hal yang sangat berbeda. Secara jelas, ia mendefinisikan dua istilah tersebut: “Investasi adalah suatu kegiatan dan keputusan yang dilakukan oleh seseorang, setelah ia melakukan kajian – kajian yang menyeluruh atas suatu hal. Sedangkan spekulasi adalah segala aktifitas yang dilakukan oleh seseorang, yang tidak memenuhi definisi tersebut.” Menurut Graham, dalam berinvestasi (khususnya dalam pasar obligasi ataupun saham), seseorang membutuhkan suatu kerangka berfikir yang logis. Ketika berbelanja di pasar modal, bayangkan diri Anda sedang berbelanja segala kebutuhan pokok yang Anda butuhkan, alih – alih membeli parfum mahal di mall. Artinya, ketika Anda melakukan hal yang pertama, Anda harus menganalisa barang pokok apa saja yang dibutuhkan, agar Anda mengetahui, segala kebutuhan pokok apa saja yang harus dibeli, untuk mengisi persediaan yang mulai menipis di rumah Anda. Oleh karenanya, seorang investor haruslah mampu menganalisa segala keadaan dan terkadang harus memilih menjadi seorang kontrarian – yang berani berenang melawan arus, seperti yang Graham katakan :

“Buy when most people, including experts, are pessimistic, and sell when they are actively optimistic.” and “The market is a pendulum that forever swings between unsustainable optimism (which makes stocks too expensive) and unjustified pessimism (which makes them too cheap). The intelligent investor is a realist who sells to optimists and buys from pessimists.”

“Belilah ketika hampir semua orang, termasuk para ahli merasa pesimis, dan juallah ketika mereka merasa optimis. Pasar modal adalah sebuah pendulum yang selamanya berayun dari optimisme yang tidak sehat (sehingga membuat harga saham – saham menjadi terlalu mahal) dan pesimisme yang tidak beralasan (sehingga menyebabkan harga saham – saham tersebut menjadi terlalu murah). Investor cerdas adalah seorang realis yang menjual kepada orang – orang  optimis dan membeli dari para pesimis.”

 

  1. Valuasi Graham

Benjamin Graham adalah seorang investor yang mengenalkan pendekatan nilai dalam memilih saham, oleh karenanya ia dianggap sebagai bapak dari metode Value Investing. Menurut Graham, saham tidaklah hanya selembar kertas yang berpindah tangan dari satu orang ke orang lainnya, saham adalah bukti kepemilikan atas suatu perusahaan, kualitas dari perusahaan itu yang seharusnya diperhatikan bukan pergerakan harga saham yang terjadi. Ia menambahkan bahwa seorang investor seharusnya mampu mengabaikan perubahan harga saham yang ia miliki. Lebih baik harga suatu saham bernilai nol (0) daripada seseorang dipusingkan oleh perubahan harga yang terjadi.

Optimisme dan pesimisme manusialah yang menggerakkan harga saham, dan dua hal tersebut tidak mewakili kualitas perusahaan yang ada. Untuk menganalisa apakah suatu saham bisa dikatakan murah atau mahal, Ben Graham melakukan beberapa pendekatan sebagai berikut ini :

 1. PBV (Price to Book Value Ratio)

PBV adalah perbandingan antara harga per lembar suatu saham dengan nilai buku perusahaan tersebut per lembar saham, dengan nilai buku didefinisikan sebagai

 

Secara defensif Graham mendefinisikan bahwa perbandingan antara harga saham dengan “nilai buku (BV) bersih” per lembar saham tidaklah melebihi dari 0,67. Tentu saja dalam kondisi ekonomi normal atau booming amatlah sulit untuk mencari perusahaan terbuka yang memenuhi kaidah ini. Secara umum sebagian orang memodifikasi kaidah Graham yang pertama menjadi :

perlu diperhatikan bahwa menurut Graham murah atau mahalnya suatu saham tidak dilihat dari harga saham yang beredar melainkan dari rasio PBV nya. Contoh berikut sekiranya dapat membantu para pembaca dalam memahami hal ini : andaikan saham perusahaan A dijual seharga Rp. 500 /lembar saham dengan PBV = 5, sedangkan saham perusahaan B dijual seharga Rp. 2.000,00 / lembar saham dengan PBV = 0,5. Di antara dua perusahaan tersebut, perusahaan manakah yang dijual lebih murah dari harga bukunya, sehingga layak dipertimbangkan untuk dibeli?

Jawab :

Perusahaan B dijual lebih murah dibandingkan dengan perusahaan A, karena perusahaan B dijual sebesar PBV 0,5 kali nilai bukunya, sedangkan perusahaan A sudah bernilai 5 kali lipat harga bukunya (PBV =5), sehingga perusahaan B lebih layak dipertimbangkan untuk dibeli secara valuasi PBV.

Dari pemaparan di atas terlihat bahwa terkadang suatu perusahaan yang dijual dengan harga yang “murah” bila dilihat secara rupiah, ternyata seringkali lebih mahal bila dibandingkan dengan saham yang harganya berkali – kali lipat dari saham tersebut bila dilihat dari valuasinya.

 

  1. PER (Price to Earning Ratio)

 

 

PER adalah perbandingan antara harga per lembar saham suatu saham dengan laba bersih perusahaan tersebut per lembar saham, dengan earning per share (EPS) didefinisikan sebagai :

 

sehingga dapat disimpulkan bahwa jika PER suatu perusahaan semakin kecil, maka EPS perusahaan tersebut mendekati harga yang dibayarkan. Demikian sebaliknya, semakin besar nilai PER suatu perusahaan, maka selisih antara harga yang dibayarkan dengan EPS perusahaan tersebut sangatlah besar. Menurut Graham, suatu emiten dapat dikatakan bernilai wajar atau murah jika :

perlu diperhatikan bahwa menurut Graham murah atau mahalnya suatu saham tidak dilihat dari harga saham yang beredar melainkan dari rasio PER nya. Contoh berikut sekiranya dapat membantu para pembaca dalam memahami hal ini : andaikan saham perusahaan A dijual seharga Rp. 500 /lembar saham dengan PER = 22, sedangkan perusahaan B dijual seharga Rp. 2.000,00 / lembar saham dengan PER = 5. Di antara dua perusahaan tersebut, perusahaan manakah yang dijual lebih murah secara valuasi PER, sehingga layak dipertimbangkan untuk dibeli?

Jawab :

Perusahaan B dijual lebih murah dibandingkan dengan perusahaan A, karena perusahaan B dijual sebesar PER 5 kali nilai laba bersihnya, sedangkan perusahaan A sudah bernilai 22 kali nilai laba bersihnya (PER =22), sehingga perusahaan B lebih layak dipertimbangkan untuk dibeli secara valuasi PER.

Dari pemaparan di atas terlihat bahwa terkadang suatu perusahaan yang dijual dengan harga yang “murah” bila dilihat secara rupiah, ternyata seringkali lebih mahal bila dibandingkan dengan saham yang harganya berkali – kali lipat dari saham tersebut bila dilihat dari valuasinya.

 

  1. Kaidah Tambahan untuk PBV dan PER

Kaidah I dan II terkadang menimbulkan suatu dilema, apakah suatu emiten (perusahaan) masih bisa dikatakan bernilai wajar ketika PBV nya = 3 dan PER = 4, atau sebaliknya ketika terjadi PBV = 0,7 dan PER = 20. Untuk menjawab problematika tersebut, maka Graham memberikan suatu solusi sebagai berikut :

Perkalian PBV dengan PER suatu emiten tidak melebihi 22,5, maka problematika di atas dapat terjawab bahwa dua perusahaan tersebut masih dikatakan dalam harga yang wajar karena PBV . PER = 3 . 4 = 12, masih di bawah 22,5, sedangkan untuk perusahaan yang kedua PBV . PER = 0,7 . 20 = 14, masih di bawah 22,5.

 

  1. DER (Debt to Equity Ratio)

DER adalah perbandingan antara total liabilitas (utang dan kewajiban) perusahaan dengan total ekuitas (modal) perusahaan. Menurut Graham rasio DER yang ideal DER lebih kecil dari 1, tetapi untuk perusahan – perusahaan konstruksi kaidah Graham tersebut dapat diabaikan, karena rata – rata DER perusahaan konstruksi adalah 1,5 sp 2 kali modalnya, sedangkan untuk sektor perbankan rata – rata DER di sektor tersebut adalah 4 – 5 kali modalnya, hal ini terjadi karena tabungan nasabah dianggap sebagai utang.

 

  1. Deviden

Menurut Graham, uji deviden adalah suatu hal yang harus dilakukan oleh seorang investor, karena uji deviden merupakan hal yang termudah yang dapat seorang investor lakukan(khususnya bagi mereka yang memiliki kemampuan yang terbatas dalam membaca laporan keuangan suatu perusahaan). Graham berpendapat bahwa, perusahaan yang layak untuk diinvestasikan adalah perusahaan yang memiliki sejarah panjang dalam pembayaran deviden, Graham berpendapat bahwa “perusahaan tersebut haruslah memiliki sejarah panjang dalam pembayaran deviden, minimal dalam kurun waktu 20 terakhir.” tetapi Graham menambahkan “bagi para investor agresif, uji deviden tersebut bisa dimodifikasi dengan menilai bahwa perusahaan tersebut pernah memberikan deviden dalam 20 tahun terakhir.”, sehingga menurut Graham, bagi investor agresif , peniadaan deviden dalam beberapa tahun bisa dimaklumi, selama alasan perusahaan tersebut dapat dipertanggungjawabkan (untuk ekspansi bisnis, melunasi hutang / obligasi, dan sebagainya).

 

Tentu saja jika diterapkan secara murni kaidah ini, sulit sekali bagi kita untuk mencari suatu emiten yang memenuhi uji deviden tersebut di pasar modal Indonesia, oleh karena nya penulis menyarankan dalam penerapannya di pasar modal kita, uji deviden tersebut dapat dimodifikasi menjadi uji deviden dalam 10 tahun terakhir.

 Dalam memilih perusahaan yang memberikan deviden, pertimbangan yang harus diperhatikan oleh para investor adalah besarnya deviden yield (biasa disebut yield saja) Besarnya deviden yield dinyatakan dalam persamaan :

menurut hemat penulis, yield yang menarik adalah yang mendekati tingkat suku bunga deposito bank terbaik di Indonesia, oleh karenanya jikalau seseorang termasuk investor yang pasif (hanya mencari pemasukan tambahan dari deviden yang diterima per tahun), maka penulis menyarankan agar para investor untuk mencari emiten yang rutin memberikan deviden, dengan rata – rata yield lebihbesar atau samadengan 3,5 sp 4 %. Batas bawah yield 3,5% atau 4% dipilih dengan mempertimbangkan suku bunga deposito di beberapa Bank di Indonesia, artinya ketika seseorang membeli suatu emiten yang memberikan deviden, dalam kerangka berpikirnya ia bisa mengsumsikan bahwa ia sedang “mendepositokan uangnya di suatu Bank.”

 

  1. Return on Equity (ROE)

Rasio pengembalian ekuitas (modal) adalah rasio probabilitas  yang mengukur kemampuan perusahan untuk menghasilkan laba dari investasi pemegang saham di perusahaan tersebut. Dengan kata lain, ROE menunjukkan  seberapa banyak keuntungan yang dapat dihasilkan oleh suatu perusahaan dari setiap satu rupiah yang mereka investasikan di perusahaan tersebut. Besarnya ROE suatu perusahaan dinyatakan dalam persamaan :

 

Semakin besar nilai ROE suatu perusahaan, maka dapat dikatakan bahwa perusahaan tersebut semakin efisien dalam mengembangkan modal yang ada. Tetapi ada satu aliran ilmu ekonomi yang mengatakan, bahwa semakin besar dan mapan suatu perusahaan, maka semakin sulit bagi perusahaan tersebut untuk meningkatkan ROE nya. Perusahaan – perusahaan yang sudah besar dan mapan ini biasanya memiliki ROE yang nilainya mendekati perkembangan nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atau peningkatan laju ekonomi negara dimana perusahaan tersebut berada, maka dapat dikatakan perusahaan – perusahaan yang sudah mapan di Indonesia, di limit kurun waktu tak hingga, ROE nya akan mendekati 5 – 8 %.

 

  1. Return on Asset (ROA)

Rasio pengembalian atas aset (ROA) adalah rasio perbandingan laba bersih perusahaan dibandingkan dengan total asetnya. Rasio ini berguna untuk mengukur seberapa efisienkah, kemampuan perusahaan dalam mengolah asetnya sehingga menghasilkan laba. Besar ROA suatu perusahaan dinyatakan dalam persamaan

Terkadang ROA tidak terlalu diperhatikan, karena beberapa orang cenderung menggunakan analisa ROE saja, tetapi analisa ROA suatu perusahaan juga dapat membantu dalam menganalisa kualitas dari suatu perusahaan.

  1. Gross Profit Margin (GPM)

Margin laba kotor adalah rasio yang menilai perbandingan laba kotor dengan total penjualan (pendapatan). GPM dinyatakan dalam persamaan

 

dengan laba kotor didefinisikan sebagai

  1. Operasional Profit Margin (OPM)

Margin Laba Operasional adalah rasio yang mengukur perbandingan laba bersih sebelum pajak dan kewajiban membayar bunga pinjaman dengan pendapatan bersih. OPM  dinyatakan dalam persamaan :

  1. Nett Profit Margin (NPM)

Margin laba bersih adalah rasio yang mengukur perbandingan laba bersih setelah pajak dan kewajiban membayar bunga pinjam dengan pendapatan bersih perusahaan. NPM dinyatakan dalam persamaan :

  

GPM, OPM, dan NPM digunakan untuk membandingkan beberapa perusahaan yang berada pada sektor (industri) yang sama. Tentu saja semakin tinggi nilai rasio – rasio tersebut, semakin layaklah perusahaan tersebut untuk dipertimbangkan untuk dibeli sahamnya.

 

  1. Current Asset Ratio (Rasio Lancar)

Rasio lancar adalah perbandingan antara aktiva (aset) lancar dengan liabilitas (kewajiban) lancar. Aset lancar adalah segala jenis aset yang dapat digunakan dalam waktu dekat (tidak lebih dari 1 siklus akuntansi). Macam aset lancar misalkan : kas, setara kas (deposito, surat berharga, dll), piutang, beban dibayar dimuka, perlengkapan dan persediaan, dll. Sedangkan liabilitas adalah segala macam kewajiban yang harus dibayarkan dalam waktu dekat (tidak lebih dari 1 siklus akuntansi). Macam liabilitas lancar misalkan : pembayaran gaji, pinjaman jangka pendek, utang usaha, utang pajak, bagian utang jangka panjang yang jatuh tempo, dst.

 

Menurut Graham rasio perbandingan minimum antara aset lancar dengan liabilitas lancar adalah = 2 : 1, artinya suatu perusahaan harus memiliki aset lancar yang bernilai 2 kali lipat dari kewajiban lancarnya. Kaidah Graham tersebut dapat ditulis sebagai berikut :

 12. Quick Ratio (Rasio Cepat)

Rasio cepat adalah perbandingan antara jumlah kas dan setara kas, dan piutang dengan kewajiban lancar suatu perusahaan.

Graham memberikan suatu pendekatan yang sangat difensif. Menurut Graham, rasio cepat yang ideal adalah

batas minimum 1 atau 1,5 diambil Graham dengan asumsi, setelah segala piutang dapat tertagih, maka suatu perusahaan memiliki finansial yang cukup untuk memenuhi segala kewajiban lancarnya yang akan jatuh tempo.

 

  1. Cash Ratio (Rasio Kas)

Rasio kas adalah perbandingan antara jumlah kas dan setara kas dengan kewajiban lancar suatu perusahaan.

menurut Graham rasio kas yang ideal adalah

 

 

 

 14. Penutup

Metode valuasi Graham menuntut cara berpikir kritis dan logis. Tiga belas model valuasi Graham yang penulis sampaikan di atas sekiranya lebih dari cukup untuk membekali para pembaca dalam menganalisa laporan keuangan dari suatu perusahaan. Andaikata para pembaca tidak memiliki waktu luang untuk menganalisa laporan keuangan suatu perusahaan, maka  saya menyarankan kepada Anda untuk melihat analisa fundamental tersebut di idx (web resmi Bursa Efek Indonesia). Pada laman idx tersebut Anda dapat menemukan analisa fundamental dari perusahaan – perusahaan terbuka (Tbk) yang diperjualbelikan di bursa. Sebagai contoh : Anda dapat mengetik ASII idx pada web pencarian, kemudian pilih yang tertera dalam

 format PDF untuk melihat analisa fundamental PT Astra Internasional Indonesia Tbk. Tetapi menurut Graham, ada baiknya para investor meluangkan waktunya untuk membaca dan menganalisa sendiri laporan – laporan keuangan tersebut, khususnya bagian catatan atas laporan keuangan.

 

Akhir kata, semoga artikel ini bisa menambah khazanah literasi pembaca dalam dunia investasi di pasar modal, dan merangsang para pembaca untuk melanjutkan literasinya. Salam saham pemenang.

 

  1. Daftar Pustaka

Graham, Benjamin (1973). The Intelligent Investor. CV Pijar Nalar Indonesia, Depok 2003.

Graham, Benjamin & Meredith, Spencer (1937). The Interpretation of Financial Statements. First Harper Business 1998.




#dipublikasikan Tim Publikasi dan Dokumentasi SMA Katolik Ricci 1 Jakarta

 

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Literasi Siswa/Perayaan Tahun Baru Imlek

PERAYAAN TAHUN BARU IMLEK Kata “imlek” muncul melalui proses serapan penduduk Nusantara terhadap istilah Hokkian “yin li” yang artinya kalender lunar. Imlek send

16/02/2021 11:39 - Oleh Administrator - Dilihat 17 kali
Apa Yang Menggerakkan Harga Saham Suatu Perusahaan Terbuka ?

 oleh Andreas Purwo Santoso   Beberapa waktu yang lalu, ada rekan penulis yang menanyakan kepada saya, "faktor apakah yang menggerakkan harga suatu saham? " Tulisan ini merupa

13/01/2021 07:33 - Oleh Administrator - Dilihat 56 kali
IN MEMORIAM ! Bapak Joseph Heru Eko Adi Putranto

IN MEMORIAM JOSEP HERU ADI EKO PUTRANTOOLEH : Robertus Supardjo "Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama”. Orang yang baik

11/12/2020 12:27 - Oleh Administrator - Dilihat 225 kali
LITERASI SISWA/KOMIK/ Penjelajahan Spanyol Ke Nusantara

KEDATANGAN BANGSA SPANYOL KE NUSANTARA (Hasil Pembelajaran Jarak Jauh kelas XI, Pelajaran Sejarah Indonesia)             d

10/11/2020 08:46 - Oleh Administrator - Dilihat 174 kali
IN MEMORIAM, BAPAK FRANSISKUS ASISI RISWANTO

  Menulis kenangan tentang seseorang yang kita cintai dan baru saja pergi menghadap Ilahi adalah sebuah pekerjaan yang teramat sulit. Kenangan hidup dan berkerja bersama dalam bila

30/10/2020 19:04 - Oleh Administrator - Dilihat 272 kali
Karya Literasi Siswa/Cerpen/ALUNAN MELODI

ALUNAN MELODI Sebuah Cerpen dari Emily Djajadikelas XII IPS 2     Angin berhembus kencang, mengibaskan rambut panjangku yang terurai bebas. Aku berjalan menelusuri padatn

02/10/2020 12:25 - Oleh Administrator - Dilihat 156 kali
Karya Literasi Guru/GAMIFIKASI DALAM PEMBELAJARAN

oleh : Andreas Purwo Santoso (Staf Pengajar di SMA Katolik Ricci 1 Jakarta  A. Belajar Sebagai Pencarian Jawaban Dalam masa - masa studi penulis di Yogyakarta, ada seorang dosen Ma

30/09/2020 11:19 - Oleh Administrator - Dilihat 290 kali
LITERASI SISWA/PODCAST/ SEJARAH PENGGUNAAN PEGAS

JUDUL :  Pegas pada Kendaraan Bermotor dari Masa ke Masa   Keterangan :  Video ini merupakan salah satu karya dari Program lintas mata pelajaran di SMA Ricci 1 Jakarta. s

22/09/2020 09:08 - Oleh Administrator - Dilihat 95 kali
LITERASI SISWA/KOMIK/ Perkembangan Covid-19 di Indonesia

JUDUL : PREDIKSI PERKEMBANGAN COVID-19 DI INDONESIA KARYA DARI :  Gerald Sheenan Vansyah/X.1Gracello Halim/X.1Katherine Valerie/X.1            

18/09/2020 11:33 - Oleh Administrator - Dilihat 318 kali