• SMA KATOLIK RICCI I
  • Respect Integrity Caring Citizenship Initiative

LITERASI SISWA/ Tragisnya Penjajahan Sang ‘Saudara Tua’

Tragisnya Penjajahan Sang ‘Saudara Tua’**

Oleh : Albert Yulius Ramadhan (kelas XI IPA

 

Sebelum Jepang memasuki masa Restorasi Meiji, Jepang merupakan suatu negara feodal di bawah pemerintahan keshogunan Tokugawa selama 265 tahun. Saat itu, Jepang menutup dirinya dari bangsa asing dengan kebijakan sakoku. Hal ini terus berlanjut hingga kedatangan Komodor Perry pada tahun 1853 dengan ‘kapal-kapal hitam’-nya. Menyadari kemajuan bangsa-bangsa Barat, Jepang mulai mengubah dirinya untuk mengejar ketertinggalannya, melalui suatu gerakan pembaruan yang disebut Restorasi Meiji (1868). Restorasi ini mengembalikan kekuasaan negara dari kekuasaan militer Tokugawa kepada Kaisar Mutsuhito (Kaisar Meiji). Kata ‘Meiji’ sendiri berarti ‘yang berpikiran cerah’, sehingga Restorasi Meiji disebut sebagai ‘zaman pencerahan Jepang’. Sepanjang tahun 1870-an, Jepang melakukan perubahan besar dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan, riset, dan teknologi, serta dalam kehidupan sosialnya. Banyak pemuda Jepang yang dikirim ke Barat untuk belajar. Sejak tahun 1872, lebih dari 54 ribu sekolah didirikan dan para ahli dan pengajar disewa dari Barat. Sementara itu, dalam bidang militer, banyak samurai yang ‘dirombak’ menjadi tentara dalam militer Jepang. Muncul pula istilah bushido (jalan ksatria), yaitu jalan laki-laki Jepang di era menguatnya militerisme. Restorasi Meiji sendiri pun membawa dampak bagi kemenangan Jepang dalam dua perangnya melawan Tiongkok (1895) dan Rusia (1905).

Pengeboman Pearl Harbour oleh angkatan Perang Jepang pada 8 Desember 1941 turut berdampak pada masuknya Jepang ke Hindia Belanda. Alasan utama Jepang datang ke Hindia Belanda adalah untuk mendapatkan cadangan logistik dan bahan industri perang (minyak bumi, timah dan alumunium). Pada saat itu, Jepang sudah menjadi negara fasis yang menganut ideologi fasisme, di mana kekuasaan berada pada seorang diktator dan otoriter. Pada Januari 1942, Jepang mendarat di Ambon dan menguasai seluruh Maluku, dan pada tanggal 12 Januari 1942 Tarakan dan Balikpapan berhasil dikuasai. Setelah memasuki Pontianak, Jepang menyerang Sumatra. Akhirnya, Jenderal Imamura dan pasukannya mendarat di Jawa (1 Maret 1942) di tiga tempat: Banten, Eretan Wetan-Indramayu, dan Bojonegoro. Tidak berdaya menghadapi serangan Jepang di Hindia Belanda, Jenderal Ter Poorten, atas nama komandan pasukan Belanda di pihak Sekutu, menandatangani penyerahan tanpa syarat kepada Jepang. Jepang sendiri saat itu diwakili oleh Jenderal Imamura. Peristiwa ini terjadi di Kalijati, Subang sehingga disebut Kapitulasi Kalijati. Dengan kapitulasi ini, penjajahan Belanda di Indonesia berakhir.


Di awal kedatangannya, Jepang disambut dengan gembira oleh rakyat Indonesia, karena Jepang dianggap telah membebaskan Indonesia dari belenggu Pemerintah Hindia Belanda. Jepang menampilkan dirinya sebagai ‘saudara tua’ karena sama-sama berasal dari Asia, dan semakin jauh memikat hati rakyat Indonesia dengan menyiksa tawanan Belanda di depan umum dan membebaskan rakyat pribumi yang ditawan Belanda. Setiap harinya, Jepang memutarkan lagu Indonesia Raya melalui radio dan mengibarkan bendera Merah Putih di samping bendera Jepang. Untuk mendapat dukungan dari rakyat Indonesia, Jepang melancarkan propaganda dengan membentuk organisasi pergerakan, yang paling awal adalah Gerakan Tiga A (3A), yang memiliki tiga semboyan: Nippon Pelindung Asia; Nippon Pemimpin Asia; Nippon Cahaya Asia. Gerakan ini didirikan pada 29 April 1942 dengan Mr Syamsudin ditunjuk sebagai ketua. Gerakan Tiga A (3A) ini tidak bertahan lama karena terlalu menonjolkan Jepang dan bukan gerakan kebangsaan, sehingga rakyat kurang bersimpati. Akhirnya, gerakan ini dibubarkan pada akhir tahun 1942.

Pada tahun 1944, posisi Jepang makin terimpit dalam Perang Pasifik. Untuk meraih dukungan rakyat Indonesia, Jepang membentuk berbagai organisasi dan menggaet tokoh nasional, serta memberikan janji kemerdekaan yang dikenal dengan Janji Koiso, yang disampaikan oleh Perdana Menteri Jepang Kuniaku Koiso pada 7 September 1944 dalam sidang istimewa Teikoku Henkai ke-85 di Tokyo. Namun, janji ini tidak kunjung dipenuhi Jepang, sehingga beberapa tokoh pergerakan, termasuk Soekarno, bersikap keras kepada Jepang. Akhirnya, dibentuklah Dokoritsu Zyumbi Coosakai atau Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 26 April 1945. Tokoh-tokoh yang direkrut antara lain Soekarno, Moh Hatta, Soepomo, AA Maramis, Abdul Wahid Hasyim, dan Moh Yamin. Namun, Jepang tidak pernah melunasi janji ini. Pada tanggal 6 Agustus 1945, AS menjatuhkan bom atom ke kota Hiroshima, dan pada 9 Agustus ke Nagasaki. Akibatnya, Jepang menyatakan kekalahannya dan menyerah.

Melihat kembali zaman pendudukan Jepang, banyak kebijakan yang dilakukan Jepang dalam berbagai bidang, antara lain di bidang sosial, ekonomi, dan pendidikan. Dari segi sosial, Jepang memberlakukan sistem kerja paksa dengan merekrut pemuda Indonesia menjadi romusha. Tidak hanya dipekerjakan di Indonesia, ada pula romusa yang dipekerjakan di Thailand dan Burma dalam proyek pembangunan jalan kereta api Nong Pla Duk (Thailand)-Thanbyuzayet (Burma) sepanjang 415 km. Mereka diperlakukan tidak manusiawi: upah mereka dipotong oleh mandor, fasilitas dan tenaga medis tidak memadai, jatah makan minim, dan apabila sakit dan tidak bisa bekerja lagi akan dikubur hidup-hidup. Sementara itu, para wanita Indonesia direkrut menjadi jugun ianfu (wanita penghibur) yang menjadi budak seks para tentara Jepang sekaligus menjadi korban kekerasan. Di bidang ekonomi, Jepang memberlakukan ekonomi perang dan ekonomi self help. Ekonomi perang adalah Ekonomi perang adalah kebijakan mengerahkan semua kekuatan ekonomi untuk menopang keperluan perang, sedangkan ekonomi self help berarti berusaha untuk memenuhi sendiri kebutuhan pemerintahan Jepang di Indonesia. Jepang memaksa menanam karet, kina, gula, dan beras. Pengawasan perkebunan diserahkan kepada Saibai Kigyo Kanrikodan (SKK), badan pengawas yang dibentuk gunseikan yang bertindak sebagai pelaksana pembelian dan penentuan harga jual hasil perkebunan. Sementara itu, untuk padi, para petani harus menjual hasil produksi mereka sesuai kuota dan harga yang ditentukan, dan mereka hanya berhak atas 40% keseluruhan hasil panen. Rakyat sangat menderita akibat peraturan ini. Industri sandang merosot sehingga banyak rakyat yang hanya bisa memakai karung atau lembaran karet mentah. Jepang juga mengganti uang Belanda dengan uang Jepang dan mencetak invasion money. Sementara dari segi pendidikan, sekolah-sekolah peninggalan belanda seperti HIS, MULO, HBS, atau AMS diganti menjadi Sekolah Rakyat, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Tinggi. Bahasa Indonesia dipakai di semua sekolah dan bendera Merah Putih boleh dikibarkan.

Kebijakan-kebijakan Jepang menuai banyak perlawanan dari rakyat Indonesia saat itu. Di Singaparna (Tasikmalaya), perlawanan dipimpin Kiai Zainal Mustofa pada Februari 1944 karena rakyatnya dipaksa untuk mengikuti upacara Seikerei (upacara penghormatan kepada kaisar Jepang dengan cara membungkuk ke arah matahari terbit) dan diperlakukan secara sewenang-wenang oleh Jepang. Di Blitar, terjadi perlawanan oleh perwira PETA pada 14 Februari 1945 dini hari yang dipimpin oleh Supriyadi. Perlawanan ini disebabkan oleh simpati dan rasa nasionalisme tentara PETA melihat kesengsaraan rakyat akibat kerja paksa (romusha).

akhir kata, penjajahan Jepang memang menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat Indonesia, antara lain penderitaan rakyat akibat kebijakan romusha dan jugun ianfu, dihapusnya organisasi politik dan pranata sosial warisan Hindia Belanda, tidak adanya kebebasan pers, dan menangkap orang-orang yang dicurigai anti-Jepang melalui Kempetai. Namun, ada pula dampak positif yang dirasakan, antara lain bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa pengantar dalam pendidikan, pembentukan struktur masyarakat hingga tingkat RW dan RT (tonarigumi), didirikannya kumiai yang menjadi cikal bakal koperasi, dan didapatnya pendidikan militer melalui organisasi-organisasi bentukan Jepang. Penjajahan Jepang yang meskipun hanya berlangsung tiga setengah tahun, dan menganggap dirinya sebagai ‘saudara tua’, sebenarnya jauh lebih kejam dibandingkan penjajahan Belanda selama 350 tahun. Tentunya, penjajahan Jepang atas Indonesia merupakan bentuk pelanggaran HAM, yakni hak asasi untuk hidup bebas. Meskipun begitu, perlu kita sadari bahwa dengan adanya penjajahan Jepang, rasa nasionalisme di antara tokoh-tokoh bangsa semakin digugah, yang akhirnya membawa bangsa Indonesia pada kemerdekaannya. Di masa kini, kita semua sebagai generasi muda dituntut untuk kritis menentang segala bentuk penjajahan di bumi ini, namun tetap perlu mengambil hal-hal positif yang dapat kita teladani sebagai modal untuk membangun negara yang lebih baik.



Sumber Bacaan : 

  1. https://www.minews.id/kisah/pengaruh-restorasi-meiji-terhadap-kemajuan-jepang
  2. https://tirto.id/langkah-strategis-jepang-sebelum-terjun-dalam-perang-dunia-i-dan-ii-f79j
  3. https://www.kompas.com/skola/read/2020/04/15/193000669/kedatangan-jepang-ke-indonesia?page=all#:~:text=Pada%20Januari%201942%2C%20Jepang%20mendarat,Ambon%20dan%20menguasai%20seluruh%20Maluku.&text=Pada%201%20Maret%201942%2C%20kemenangan,Pulau%20Wake%20di%20Samudera%20Pasifik.
  4. https://www.kompas.com/skola/read/2020/01/11/080000369/kedatangan-jepang-di-indonesia-mengapa-disambut-gembira?page=all
  5. https://www.kompas.com/skola/read/2020/01/18/130000769/janji-koiso-janji-kemerdekaan-jepang-kepada-indonesia
  6. https://www.kompas.com/skola/read/2020/01/12/130000169/gerakan-tiga-a-dan-propaganda-jepang?page=all
  7. https://tirto.id/bersekolah-di-zaman-nippon-bLTP
  8. https://tirto.id/jugun-ianfu-budak-wanita-di-masa-penjajahan-jepang-cgZz
  9. https://historia.id/urban/articles/romusha-di-seberang-lautan-6jzJ6/page/2
  10. https://www.kompas.com/skola/read/2020/01/15/205929369/ekonomi-perang-di-masa-pendudukan-jepang?page=all
  11. https://kumparan.com/berita-hari-ini/perlawanan-rakyat-pada-masa-pendudukan-jepang-kerap-berakhir-tragis-1u05tQnWTwo




** Tulisan ini dibuat dalam menenuhi Ulangan Berbasis literasi Baca-tulis pada pelajaran Sejarah Indonesia pada Januari 2021

#dipublikasin tim publikasi dan dokumentasi SMA Katolik Ricci 1 Jakarta

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Materi Literasi 8 : E-COMMERCE : E - Commerce suatu solusi dalam sistem perdagangan ataukah menghasilkan sistem pasar yang monopolistik.

LITERASI RICCI : MEMBACA DUNIA LEWAT SEKOLAH     PETUGAS :    Moderator Sdri Gracella Kurniawan (XII.3) Notulis Sdr. Elvina Budisartono (XII.3) Doa / Dirigen

21/09/2021 11:39 - Oleh Administrator - Dilihat 104 kali
MATERI LITERASI 7 : FILM DOKUMENTER

MATERI LITERASI 7 : Film Dokumenter  LITERASI RICCI ; MEMBACA DUNIA LEWAT SEKOLAH MATERI LITERASI 7   PETUGAS :  Moderator Sdri Elvira Budisartono (XII.3) Notulis Sd

14/09/2021 08:38 - Oleh Administrator - Dilihat 121 kali
MATERI LITERASI RICCI 6 : Operasi Plastik dan Standar Kecantikan : Perlukah?

MATERI LITERASI RICCI 6 : Operasi Plastik dan Standar Kecantikan : Perlukah?LITERASI RICCI : MEMBACA DUNIA LEWAT SEKOLAH PERTEMUAN 6 : DEBAT LITERASI  PETUGAS :  Moderator

07/09/2021 07:43 - Oleh Administrator - Dilihat 146 kali
MATERI LITERASI 5 : BUKU/KOMIK/MAJALAH

MATERI LITERASI RICCI 5 : BUKU/KOMIK/MAJALAH   LITERASI RICCI ; MEMBACA DUNIA LEWAT SEKOLAH MATERI LITERASI 5 Moderator Sdr Phillips Steven Mursalim (XII.2) Notulis Sdri

31/08/2021 08:53 - Oleh Administrator - Dilihat 129 kali
MATERI LITERASI RICCI 4 : GENERASI INDONESIA 2045 : GENERASI EMAS ATAU CEMAS ?

LITERASI RICCI : MEMBACA DUNIA LEWAT SEKOLAH PERTEMUAN 4 : DEBAT LITERASI  PETUGAS :  Moderator Sdr Albert Yulius Ramahalim (XII.1) Notulis Sdri. Graciella Natahnia W. (X

25/08/2021 19:33 - Oleh Administrator - Dilihat 254 kali
MATERI LITERASI RICCI 3 : FILM FIKSI

LITERASI RICCI ; MEMBACA DUNIA LEWAT SEKOLAH MATERI LITERASI 3  Moderator Sdri Jennifer Tantowi (XII.1) Notulis Sdri Geral Dinne Jovinta (XII.1) Doa / Dirigen Sdr Bryan Meyv

18/08/2021 07:08 - Oleh Administrator - Dilihat 271 kali
MATERI LITERASI 2 : Fenomena Makanan Berlabel BTS : Hal Positif atau Konsumerisme ?

Literasi Ricci : Membaca Dunia Lewat Sekolah   Pertemuan 2 : Debat Literasi   Moderator : Marcel Rottebayan Notulis  : Gery Pintoko Doa Dan Dirigen : Roslinawati Panelis

09/08/2021 16:59 - Oleh Administrator - Dilihat 500 kali
LITERASI GURU/PUISI/ BELUM DIBERI JUDUL

Belum Diberi Judul Sebuah Puisi Kemerdekaan dari : Gilby Fernando (Guru PPKN)   Banyak pertanyaan didalam pikiranku Membuat resah gelisah gundah hatiku Baiknya ku tuangkan dalam se

04/08/2021 09:48 - Oleh Administrator - Dilihat 1215 kali
MATERI LITERASI 1 : TOKOH

Literasi Ricci : Membaca Dunia Lewat SekolahPertemuan 1 Jenis : Sidang AkademikHari Tanggal : Kamis, 05 Agustus 2021Pemateri 1 : Andreas Purwo SantosoPemateri 2 : Danita TariganModerato

02/08/2021 19:26 - Oleh Administrator - Dilihat 522 kali
LITERASI SISWA | IMUNITAS, si PENJAGA TAK TERLIHAT

IMUNITAS, si PENJAGA TAK TERLIHATCara Kerja Sistem Imunitas dan Kaitannya Terhadap Obat Maupun Fenomena Lingkungan Sekitar Karya Tulis ini Dibuat untuk Memenuhi Nilai Mata Pelajaran Bio

08/06/2021 12:19 - Oleh Administrator - Dilihat 164 kali