• SMA KATOLIK RICCI I
  • Respect Integrity Caring Citizenship Initiative

LITERASI SISWA | IMUNITAS, si PENJAGA TAK TERLIHAT

IMUNITAS, si PENJAGA TAK TERLIHAT
Cara Kerja Sistem Imunitas dan Kaitannya Terhadap Obat Maupun Fenomena Lingkungan Sekitar

Karya Tulis ini Dibuat untuk Memenuhi Nilai Mata Pelajaran Biologi
Dibuat oleh:
Kyan Widjaja XI.1/13

 

 

Prolog:
Tahukah kalian bahwa sebuah ponsel mengandung bakteri 18 kali lebih banyak dibandingkan dengan pegangan flash toilet? Proporta, salah satu perusahaan casing antimikroba juga menegaskan bahwa ponsel rata-rata memiliki 25.127 kuman per inci persegi (hot.liputan6.com). Tidak hanya pada barang anda sehari-hari, Husen Habsyi, seorang ahli kesehatan masyarakat, memperkirakan terdapat 1.500 bakteri pada setiap 1 cm persegi kulit tangan. Lipatan kulit tangan dan di bawah kuku adalah lokasi persembunyian bakteri terbanyak meskipun tidak semuanya menyebabkan penyakit (cnnindonesia.com).

Melihat betapa banyak ancaman yang berbahaya di sekitar kita, maka diperlukan suatu sistem pertahanan yang mampu melindungi tubuh agar tidak terserang penyakit, yaitu sistem imunitas. Menurut ahli reumatologi dari Cleveland Clinic, Leonard Calabrase, sistem imunitas (sistem kekebalan) adalah sistem fisiologis yang sangat terintegrasi untuk melindungi diri dari ancaman internal atau eksternal seperti infeksi, racun, atau berbagai penyebab penyakit (health.kompas.com). Lalu bagaimana cara sistem imunitas ini bekerja? Apa saja komponen dan fungsi di dalamnya? Apa yang terjadi pada bakteri atau virus yang memasuki tubuh? Nah, oleh karenanya mari kita mulai perjalanan dalam menguak sistem imunitas, si penjaga tak terlihat!

  1. Mengenal benteng dalam tubuh kita dan cara mereka bertahan

Sumber : teknologi.bisnis.com

Coba kita bayangkan tubuh kita sebagai sebuah benteng yang menampung penduduk serta pasukan penjaga di dalamnya. Lapisan terluar benteng kita adalah kulit, lapisan ini terdiri atas tumpukan sel mati yang mencegah bakteri ataupun virus jahat memasuki tubuh.

Selain itu terdapat juga membran mukosa untuk melindungi bagian luar organ yang rentan seperti mata, paru-paru, dan berbagai organ lainnya. Apabila kita melihat pada bagian yang lebih dalam, dapat ditemukan berbagai macam sel yang jumlahnya berkisar antara 30-40

triliun sel (hellosehat.com). Sel-sel inilah yang kemudian mengolah bahan makanan menjadi energi sekaligus menjalankan fungsi tubuh. Lalu bagaimana bila terdapat penyusup yang berhasil masuk ke dalam benteng? Oleh karenanya dibutuhkan pasukan penjaga untuk meringkus para penyusup yang masuk, yaitu sistem imunitas. Untuk memahami cara kerja

sistem imunitas, mari kita lihat kasus berikut :

“Kamu tidak sengaja melukai jarimu dan menciptakan sebuah luka kecil yang mengundang bakteri untuk masuk. Bakteri mulai masuk ke dalam jaringan, serta menginfeksi sel-sel yang mereka temukan untuk berkembangbiak dan menimbulkan kerusakan. Untuk menutup pendarahan, tubuh akan mempersempit arteri pada area sekitar luka, dan mulai mengumpulkan sel darah merah, dilanjutkan dengan pembekuan darah oleh fibrin (pembekuan darah tidak akan dibahas secara rinci pada bagian ini). Selanjutnya, untuk mencegah bakteri menyebar lebih luas, maka tubuh memberikan reaksi berupa inflamasi (peradangan), tujuannya adalah untuk mengumpulkan bala bantuan yang cukup selama proses penahanan bakteri.”

 

Untuk lebih jelasnya, mari kita melihat prosesnya langsung di medan pertempuran!

 

 

“Bala bantuan pertama yang datang ke medan pertempuran adalah sel T penolong. Sel T penolong akan mencoba memata-matai penyusup yang masuk, serta mempersiapkan informasi bagi sel B untuk membuat antibodi. Selain itu terdapat juga makrofag (bentuk baru

 

dari monosit), ia mempunyai sifat fagositosis yang membuatnya mampu menelan hingga 100 bakteri dan memecahnya menggunakan enzim. Datang juga neutrofil yang sangat kuat dalam menyebarkan toksin untuk membunuh para penyusup, namun bisa juga melukai sel-sel disekitarnya apabila digunakan terlalu berlebihan.”

 

Pertempuran mulai memanas di medan pertempuran….

 

 

“Setelah sekian lama bertempur, ternyata bakteri yang masuk ini cukup kuat, sehingga dipanggilah sel dendritik untuk memperoleh informasi antigen dari sel T dan memutuskan untuk memanggil antara pasukan anti virus ataupun pasukan anti bakteri serta membantu sel B membentuk antibodi. Melalui sel dendritik pula sel T dapat lebih banyak bereplikasi menjadi sel T efektor, beberapa diantaranya seperti sel T supresor (penyemangat) dan sel T

sitotoksik (pembunuh), untuk membantu di medan tempur. Sebagian lainnya, seperti sel T penolong (inteligen) dan sel T supresor (penyemangat), berada di kelenjar getah bening serta memproduksi limfokin untuk membantu sel B membentuk antibodi. Antibodi adalah protein larut yang dihasilkan oleh sistem imunitas sebagai respons terhadap kekebalan suatu antigen dan akan bereaksi dengan antigen tersebut.

 

Yup antibodi sudah terbentuk! Em ternyata tidak secepat itu kawan…

 

 

“Sayangnya pembentukan antibodi ini memakan waktu hingga beberapa hari, untuk SARS-Cov-2 saja diperlukan 2-3 minggu untuk membentuk antibodi yang cukup dari vaksinasi menurut ahli biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo (cnnindonesia.com).

Selagi menunggu kedatangan antibodi, perlawanan harus terus dilakukan oleh pasukan penjaga sistem imunitas. Untuk mengingat informasi mengenai antigen penyusup dan cara melawannya, beberapa sel T berdiferensiasi menjadi sel T memori yang mampu bertahan

seumur hidup untuk menghadapi kondisi serupa di masa depan. Terdapat pula sel pembunuh alami (Natural Killer) yang secara otomatis membunuh antigen asing yang masuk ke dalam tubuh. “

 

Sebenarnya apa saja yang dilakukan oleh antibodi? Mengapa benda ini sangat penting untuk mengalahkan sang penyusup? Yap akan kita bahas dalam kutipan berikut ini.

 

“Apabila pasukan tersebut berhasil menahan bakteri cukup lama hingga antibodi siap, maka dapat dipastikan bahwa tubuh kita akan selamat. Hal ini dikarenakan antibodi merupakan protein plasma yang disebut imunoglobulin (Ig) serta terdiri atas 5 kelas, yakni IgA, IgD,IgE,IgG, dan IgM. Bentuk dari masing-masing kelas antibodi berbeda-beda, hal tersebut dilakukan untuk menunjang fungsinya dalam menghadapi bakteri ataupun virus yang berbeda pula. Lalu apa yang sebenarnya dilakukan oleh antibodi? Antibodi akan menjepit

antigen pada permukaan membran ataupun reseptor dari virus dan bakteri, sehingga akan sulit bagi mereka untuk menginfeksi sel serta mempermudah makrofag untuk menelan mereka. “

“Selain itu, keberadaan antibodi menciptakan suatu reaksi fiksasi komplemen, yaitu teraktifkannya protein-protein dalam saluran darah untuk membantu antibodi menangkap para penyusup tadi. Setelah seluruh penyusup jahat berhasil ditangkap, sebagian besar pasukan yang tersisa akan menggugurkan diri untuk menghemat energi yang digunakan untuk pemulihan. Kamu bisa melihat bahwa radang pada area sekitar lukamu sudah sembuh, dan lukamu mungkin sudah menutup sepenuhnya. Begitulah kisah pertempuran heroik yang terjadi di dalam tubuh tanpa kita sadari setiap harinya.”

 

2.      Protein, Bom Kecil yang Jarang Dibahas

Sumber : greelane.com

Yap, selesai sudah pembahasan kita mengenai bagaimana tubuh menghadapi penyusup yang menembus benteng pertahanan kita. Melalui cerita panjang tadi, sempat disinggung secara singkat mengenai fiksasi komplemen yang melibatkan protein dalam sistem imunitas. Meskipun terdengar seperti bala bantuan sepele, namun nyatanya komponen-komponen protein ini cukup berguna dalam meringkus antigen dalam tubuh sehingga mereka dijuluki sebagai sistem komplemen dalam imunitas. Seperti apa peran mereka dalam membantu sistem imunitas? Ayo kita lanjutkan!

Terdapat lebih dari 30 protein berbeda yang dapat aktif melalui reaksi tertentu oleh sistem imunitas. Beberapa hal yang bisa dilakukan oleh protein ini diantaranya adalah mengepung musuh, mengaktifkan protein lain, dan merusak musuh melalui lisis. Seperti

kasus tadi, anggaplah terdapat sebuah celah kecil yang memungkinkan penyusup (baik virus maupun bakteri) masuk dan merusak sel dalam tubuh. Sistem imunitas akan menghadapi penyusup itu di baris depan sekaligus mengaktifkan sistem komplemen tadi dengan cara melepaskan reaksi kimia.

Protein pertama yang akan teraktifkan adalah protein c3, yang lalu akan terpecah menjadi 2 bagian, yaitu c3a dan c3b. Protein c3b akan mencari penyusup yang masuk dan menempel pada lapisan membrannya. Setelah protein yang teraktifkan semakin banyak, protein c3b dapat bergabung dengan protein-protein lain menjadi protein “c3 convertase”. Protein ini mampu menghasilkan lebih banyak protein c3 untuk mengepung bakteri yang dihinggapi. Lama kelamaan protein c3b yang menyelimuti membran semakin banyak,

sehingga memperlambat gerak si penyusup. Namun jangan lupakan protein c3a, ia berfungsi sebagai suar tanda bahaya yang mampu mengarahkan bala bantuan ke tempat pertempuran. Dengan semakin lambatnya gerak penyusup, akan lebih mudah bagi sistem imunitas untuk menangkap dan menghancurkannya. Akan tetapi, apabila masih ada penyusup yang belum berhasil ditangkap, maka protein c3 convertase masih dapat membentuk struktur baru untuk melubangi lapisan membran penyusup dan… voila! Protein tersebut berhasil meledakkan membran dan membuat isi dalamnya keluar, mirip seperti bom bukan?

Nyatanya protein-protein ini akan lebih cepat dalam menanggapi virus dibandingkan dengan bakteri. Seperti kita tahu bahwa virus memerlukan inang untuk berkembangbiak, dengan kata lain virus tidak akan mampu berbuat apa apa di luar sel tubuh. Oleh karenanya protein-protein ini mampu menangkap virus sebelum masuk ke dalam sebuah sel dan menunggu limfosit untuk menghancurkannya. Sayangnya, para penyusup yang masuk ini juga terus berkembang lebih berbahaya, salah satunya Vaccinia Virus yang dapat menonaktifkan sistem komplemen, ataupun beberapa bakteri yang mampu menyamar dengan mengambil beberapa molekul dari darah kita. Oleh karenanya, tubuh kita selalu memperbarui sistem pertahanannya agar mampu menanggulangi penyusup yang berbeda beda.

 

3 .      Vaksin, dan Bagaimana Mereka Bekerja

Sumber : dw.com

Semakin banyak penyakit yang menyerang tubuh, maka semakin kuat pula tubuh kita setelah menghadapi penyakit tersebut. Hal tersebut terjadi karena terdapat sel T memori yang mampu mengingat musuh, serta bekerjasama dengan sel B untuk mengalahkannya dengan

efektif. Sayangnya akan sangat tidak menyenangkan bila harus memperoleh kekebalan melalui infeksi terus menerus dan oleh karenanya diciptakan vaksin untuk memancing tubuh membentuk kekebalan. Vaksin akan berpura pura masuk sebagai bakteri/virus berbahaya,

sehingga tubuh dapat mengatasinya dengan mudah dan membentuk sel T memori untuk bersiap menghadapi bahaya yang sebenarnya.

Terdapat beberapa jenis vaksin, salah satunya adalah dengan memasukkan potongan-potongan bakteri/virus. Cara ini bisa dikatakan kurang efektif, karena objek yang dimasukkan itu cukup mudah dan kurang menantang sistem imunitas tubuh, sehingga sel T memori yang terbentuk akan lebih sedikit. Oleh karenanya dibuatlah vaksin dengan

menggunakan bakteri/virus yang sudah dilemahkan, sehingga cukup kuat untuk menciptakan sel T memori yang lebih banyak. Untuk memancing tubuh menciptakan sel T memori yang

cukup, virus/bakteri dalam vaksin yang dimasukkan harus bisa melawan ataupun menantang sistem imunitas. Hal tersebut dapat menyebabkan beberapa efek samping ringan tergantung pada kondisi fisik masing masing orang.

Sayangnya, oleh karena efek samping ini, beberapa orang memilih untuk menolak vaksin karena tidak ingin menerima beberapa efek samping yang seharusnya jauh lebih ringan dibandingkan dengan infeksi yang sebenarnya. Sebuah studi menunjukkan perbandingan antara daerah dengan fasilitas medis baik dan tidak melakukan vaksinasi

campak (MMR), serta daerah serupa namun dengan vaksinasi campak. Dari 10.000.000 anak, diperkirakan terdapat sekitar 20.000 anak yang wafat akibat campak pada daerah yang tidak melakukan vaksin. Namun hal ini berbanding terbalik dengan daerah yang melakukan vaksinasi, dimana hanya terdapat 120 anak yang mendapat efek samping serius dari vaksin.

 

Terdapat rumor yang mengatakan bahwa bahan thimerosal pada vaksin bisa menyebabkan autisme, namun hal tersebut telah dibantah berulang kali salah satunya oleh studi yang dilakukan pada tahun 2019. Dilansir dari alodokter.com, selama lebih dari 18 tahun terakhir, telah banyak institusi independen yang menguji kaitan antara vaksin dengan autisme. Hasilnya, tidak ada kaitan antara paparan thimerosal dengan autisme, dan hanya vaksin DTP (Difteri, Tetanus, Pertunis) yang memiliki kandungan thimerosal di dalamnya.

Untuk kematian, akan sangat sulit mencari data berkaitan dengan kematian yang disebabkan oleh vaksin. Sebagian besar rumor kematian tersebut didapatkan dari laporan pribadi yang belum teruji kebenarannya (dalam hal ini vaksin MRR).

“Vaksin itu seperti sabuk pengaman, apakah ada korban kecelakaan yang telah mengenakan sabuk pengaman? Tentu ada. Tetapi akankah lebih baik untuk berkendara tanpa sabuk pengaman?” Lalu bagaimana bila kita berada dalam kondisi khusus, seperti alergi terhadap vaksin? Bila memang keadaan tidak memungkinkan untuk melakukan vaksinasi, maka akan lebih baik bila orang-orang sekitar kita segera melakukan vaksinasi untuk mencegah kita tertular dari orang-orang di dekat kita. Keadaan ini disebut Herd Immunity, dan pada campak diperlukan 95% orang telah tervaksinasi di sekitar orang yang tidak dapat divaksinasi untuk mencegah tertularnya campak.

 

4.      Pisau Bermata Dua, Antibiotik

Sumber : hellosehat.com

Manusia telah banyak menemukan berbagai inovasi baru yang terus membawa manusia menuju puncak peradaban. Selain dalam bidang teknologi, kemajuan pesat juga terjadi dalam bidang kesehatan, salah satunya dengan kehadirkan antibiotik. Namun, tahukah kalian bahwa penggunaan antibiotik yang berlebihan juga akan membawa dampak buruk bagi kehidupan kita di masa mendatang? Untuk mengetahui seluk beluknya, marilah kita lanjut dalam bagian berikut.

Pada tanggal 28 September 1928, antibiotik pertama ditemukan oleh Alexander Fleming dengan nama penisilin (liputan6.com). Antibiotik dapat membasmi bakteri jahat dalam tubuh melalui beberapa cara, seperti mengganggu sistem metabolismenya, merusak DNA bakteri sehingga tidak bisa berkembangbiak, atau merusak membran luar bakteri hingga menyebabkan lisis. Namun beberapa bakteri yang lolos dari antibiotik akan mengembangkan cara baru untuk menjadi kebal terhadap antibiotik, seperti membuat

antibiotik tidak berfungsi, mengeluarkan antibiotik dari dalam membran sel, dan bahkan menyebarkan kekebalan mereka terhadap bakteri-bakteri lainnya melalui transfer plasmid. Cara lainnya untuk memperoleh kekebalan adalah dengan melakukan transformasi, dimana suatu bakteri mengumpulkan potongan-potongan DNA dari bakteri yang sudah mati, untuk menjadi kuat dan kebal terhadap obat pembunuh bakteri tersebut.

Sayangnya penyebaran antibiotik ini tidak merata di beberapa belahan dunia dan kebanyakan digunakan terlalu umum untuk gejala gejala yang ringan. Masalah serius lainnya adalah adanya penggunaan antibiotik pada hewan ternak untuk memangkas biaya yang diperlukan bila hewan tersebut sakit. Kembali lagi, hal ini dapat menambah jumlah

“superbug” yang perlahan masuk ke tubuh manusia melalui makanan yang dikonsumsi. Kabar baiknya adalah kita memiliki beberapa antibiotik khusus yang digunakan untuk memusnahkan bakteri yang sudah kebal terhadap antibiotik umum, salah satunya yaitu

colistin. Kabar buruknya, pada tahun 2015, telah ditemukan sebuah bakteri yang berhasil memperoleh kekebalan terhadap colistin. Peternakan babi di China telah lama menggunakan colistin dalam pakan untuk mencegah babi terserang penyakit, bakteri kebal terbentuk dan menyebar ke manusia tanpa diketahui. Namun tidak perlu panik, karena umat manusia terus berkembang untuk menciptakan inovasi yang lebih efektif setiap waktunya.

 

5. Bakteriofag, dan Ide Gila untuk Menggunakannya

Mengenai masalah dalam penggunaan antibiotik yang berlebihan, para ilmuwan tengah mempertimbangkan salah satu metode untuk menyuntikkan objek paling mematikan di muka bumi ke dalam tubuh manusia sebagai pengganti antibiotik. Bagaimana ide gila ini dapat berhasil? Maka dari itu, mari kita sambut pendatang baru pada bagian ini yaitu bakteriofag!

Bakteriofag adalah sebuah virus, dimana kepalanya (kapsid) berisikan komponen RNA, dilengkapi dengan serabut ekor, serabut kaki, serta alat penusuk. Bakteriofag hanya

menyerang bakteri, lalu uniknya setiap bakteriofag memiliki kecenderungan untuk mengincar 1 jenis bakteri saja dan tidak mengincar bakteri diluar jenis yang ditargetkan. Setelah berhasil mencapai bakteri inangnya, bakteriofag akan menyuntikkan RNA nya ke dalam bakteri tersebut untuk mengambil alih serta menjadikannya sebagai inang untuk berkembangbiak.

Setelah jumlahnya sudah terlalu banyak, bakteriofag akan mengeluarkan endolisin untuk merobek membran bakteri, dan pergi mencari bakteri sejenis. Sifat bakteriofag ini dapat digunakan sebagai pengganti antibiotik, dimana penderita sakit akibat bakteri cukup diberikan asupan bakteriofag yang cocok untuk membasmi bakteri tersebut.

Hal ini semakin diperkuat dengan kenyataan akan penggunaan antibiotik berlebih di berbagai belahan dunia, sehingga memberikan kesempatan bagi bakteri untuk berkembang membentuk varian yang resisten terhadap antibiotik, atau kita sebut “superbug”. Diperkirakan bahwa jumlah kematian akibat superbug akan melebihi jumlah kematian akibat kanker pada tahun 2050, dan lebih dari 23.000 orang di Amerika Serikat wafat akibat kasus superbug

setiap tahunnya. Seperti yang dikatakan sebelumnya, bakteriofag ini tidak berbahaya bagi sel manusia karena mereka hanya mengincar bakteri yang cocok bagi mereka, dan oleh karenanya serangan yang dilakukan terhadap sumber penyakit pun akan tepat sasaran tanpa melukai bakteri yang dibutuhkan tubuh. Hal ini tidak berlaku untuk antibiotik, dimana penggunaannya dapat sekaligus menimbulkan kematian bagi bakteri baik yang berada di dalam usus.

Sekalipun si bakteri jahat berusaha untuk memperkuat diri terhadap bakteriofag, hal yang sama juga akan dilakukan oleh bakteriofag untuk memperkuat dirinya. Selain itu, ditemukan fakta bahwa suatu bakteri harus mengurangi tingkat kekebalannya terhadap

antibiotik untuk menjadi kebal terhadap beberapa spesies bakteriofag. Hal ini membuka peluang bagi kita untuk memanfaatkan baik bakteriofag maupun antibiotik dengan efektif sesuai keperluan.

 

Penggunaan bakteriofag dalam pengobatan pernah dilakukan pada seorang laki-laki tua berusia 61 tahun yang terserang bakteri Pseudomonas aeruginosa. Bakteri tersebut telah berkembang cukup kuat, sehingga hanya dapat dihancurkan dengan menggunakan

colistin. Kabar buruknya adalah sang pasien mengalami kerusakan ginjal setelah 10 hari terapi colistin. Oleh karena itu, terapi colistin dihentikan agar tidak memperberat kerja ginjal, dan kemudian dialihkan pada pemberian 50 ml bakteriofag BFC1 yang telah dimurnikan

setiap 8 jam selama 10 hari. Hasil yang paling terlihat adalah kadar bakteri dalam darah menjadi rendah, demam menurun, dan kadar C-reactive protein menurun. Pada tahun 2016, uji klinis terhadap bakteriofag mulai dilakukan, dan penerapannya semakin mendapat perhatian dalam dunia kedokteran.

 

6.  SARS-CoV-2, dan dampaknya dalam tubuh kita

 

Nah-nah-nah, sekarang mari kita aplikasikan keseluruhan pembahasan kita tadi pada contoh kasus nyata yang kini dunia tengah alami, yaitu Coronavirus atau SARS-CoV-2.Sebenarnya bagaimana cara virus ini menghadapi sistem imunitas dalam tubuh kita semua? Mari langsung kita bahas!

Coronavirus membutuhkan inang untuk dapat bereplikasi, sama seperti virus pada umumnya. Penyebarannya dilakukan melalui droplet ataupun cairan dari makhluk hidup, dan dapat masuk ke dalam tubuh melalui hidung, mata, ataupun mulut. Neeltje van Doremalen,seorang pakar virologi di US National Institutes of Health (NIH), dan rekan-rekannya diRocky Mountain Laboratories di Hamilton, Montana, adalah salah satu tim peneliti pertama yang melakukan tes tentang kemampuan SARS-CoV-2 bertahan hidup di berbagai permukaan. Studi mereka, yang telah diterbitkan dalam New England Journal of Medicine, menunjukkan bahwa virus tersebut dapat bertahan dalam droplet hingga tiga jam setelah terlepas ke udara. Tapi studi NIH menemukan bahwa virus SARS-CoV-2 bertahan lebih lama di atas permukaan kardus - hingga 24 jam - dan hingga 2-3 hari di permukaan plastik dan stainless steel./Tujuan penyerangan virus ini adalah ke area pencernaan, limfa, ataupun paru-paru.

Coronavirus menempel pada sel epitel paru-paru (tepatnya pada ACE2 Receptor) lalu menyuntikkan materi RNA nya ke dalam sel untuk bereplikasi. Setelah jumlah virus baru sudah memuncak, maka sel tersebut akan rusak dan virus baru segera menginfeksi sel-sel lainnya. Setelah 10 hari, diperkirakan jutaan sel tubuhmu akan terinfeksi dan terdapat

milyaran coronavirus berkeliaran dalam paru-paru. Segera sistem imun akan bergerak untuk memusnahkan virus tersebut, akan tetapi coronavirus membuat sel epitel yang telah terinfeksi mengeluarkan sitokin secara berlebihan, sehingga membuat tubuh memanggil bala bantuan melebihi yang dibutuhkan dan menyebabkan kerusakan.

Dan bisa ditebak…. neutrofil akan merusak sel-sel yang sehat, lalu sel T pembunuh akan membuat sel-sel hidup melakukan perusakan diri yang dapat menimbulkan kerusakan permanen dan cacat dalam tubuh. Pada umumnya, gejala yang diterima tidak akan terlalu parah, namun beberapa kasus berada dalam keadaan kritikal dimana selubung paru-paru

sudah rusak dan bakteri berhasil menginfeksi alveolus (pneumonia). Kasus umum menunjukkan tubuh memiliki daya tahan yang cukup untuk pulih dari coronavirus, akan tetapi apabila bakteri-bakteri berbahaya lainnya berhasil memasuki tubuh dalam masa pemulihan, maka kematian menjadi memungkinkan karena tubuh belum pulih sepenuhnya.

Coronavirus lebih berbahaya dan cepat menyebar dibandingkan dengan flu, oleh karenanya kita harus mengurangi jumlah penyebarannya dan “memperdatar kurva”. Dengan begitu, fasilitas kesehatan dapat lebih siap untuk menampung yang sakit, dan terdapat cukup waktu untuk mendistribusikan vaksin. Prinsip yang harus selalu kita pegang dalam masa pandemi ini adalah menjaga diri agar tidak terinfeksi dan tidak menginfeksi orang lain.

Mencuci tangan dengan sabun merupakan salah satu langkah untuk mencegah penularan,

sebab coronavirus diselubungi oleh lapisan lemak (lipid) dan hal tersebut dapat dibersihkan dengan mudah melalui sabun.

 

Penutup

 

Akhirnya lengkap sudah petualangan kita dalam menguak misteri sistem imunitas dalam tubuh kita, serta bagaimana cara kerja mereka dalam menghadapi fenomena lingkungan sekitar. Semoga literatur ini dapat memperkaya wawasan dan pengetahuan, serta dapat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karenanya, semoga Pak Riki bisa membaca tuntas karya tulis ini, dan dapat menilai tulisan Kyan dengan mantap maksimal, terimakasih.

 

 

Daftar Pustaka

 The Immune System Explained I – Bacteria Infection : https://youtu.be/zQGOcOUBi6s

  1. Tiny Bombs in your Blood - The Complement System : https://youtu.be/BSypUV6QUNw
  2. Sistem Komplemen :
    1. Short version:

#Complement System, retrieved 2019

https://www.immunology.org/public-information/bitesized-immunology/sistema s-y-procesos/complement-system

  1. Long version:

#The complement system and innate immunity, 2001 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK27100/

  1. #Analysis of C3 Suggests Three Periods of Positive Selection Events and Different Evolutionary Patterns between Fish and Mammals, 2012 https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0037489
  2. #Analysis of C3 Suggests Three Periods of Positive Selection Events and Different Evolutionary Patterns between Fish and Mammals, 2012 https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0037489
  3. #Alterations in the Immune Response, Apoptosis and Synaptic Plasticity in Posttraumatic Stress Disorder: Molecular Indicators and Relation to Clinical Symptoms, 2012

https://www.intechopen.com/books/new-insights-into-anxiety-disorders/alterati ons-in-the-immune-response-apoptosis-and-synaptic-plasticity-in-posttraumat ic-stress-disorde

  1. #Complement diversity: a mechanism for generating immune diversity?, 1998 https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0167569998013413
  2. #Alterations in the complement cascade in post-traumatic stress disorder, 2010

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2834673/

  1. #A Revised Mechanism for the Activation of Complement C3 to C3b. A molecular explanation of a disease-associated polymorphism, 2014 http://www.jbc.org/content/290/4/2334.full
  2. #Complement System Part I – Molecular Mechanisms of Activation and Regulation, 2015 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4451739/
  3. #Physiology, Opsonization, 2018 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK534215/
  4. #Defining Targets for Complement Components C4b and C3b on the Pathogenic Neisseriae, 2007 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2223645/
  5. #Chapter 4: The complement system, 2013 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459482/
  6. #Complement and viral pathogenesis, 2011 https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0042682210008135?via%3 Dihub

 

  1. The Side Effects of Vaccines - How High is the Risk? : https://youtu.be/zBkVCpbNnkU
  2. Cara kerja vaksin :
    1. #How the immune system works, retrieved 2019

https://vaccine-safety-training.org/how-the-immune-system-works.html

  1. #Overview of the Immune System, 2013 https://niaid.nih.gov/research/immune-system-overview
  2. #Antibody, retrieved 2019 https://www.britannica.com/science/antibody
  3. #Immunobiology: The Immune System in Health and 5th edition. Principles of innate and adaptive immunity, 2001 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK27090/
  4. #Memory Cells, retrieved 2019 https://askabiologist.asu.edu/memory-b-cell
  5. #Immunological memory cells, 2018 https://www.termedia.pl/Immunological-memory-cells,10,33410,1,1.html
  6. #Understanding how vaccines work, 2018 https://www.cdc.gov/vaccines/hcp/conversations/downloads/vacsafe-understa nd-color-office.pdf
  7. #Inactivated whole-cell (killed antigen) vaccines, retrieved, 2019 https://vaccine-safety-training.org/inactivated-whole-cell-vaccines.html
  8. #Subunit vaccines, retrieved 2019 https://vaccine-safety-training.org/subunit-vaccines.html 
  9. #Live attenuated vaccines (LAV), retrieved 2019 https://vaccine-safety-training.org/live-attenuated-vaccines.html
  10. #Principles of Vaccination, 2018 https://www.cdc.gov/vaccines/pubs/pinkbook/prinvac.html
  11. #WHO vaccine reaction rates information sheets, 2018 https://www.who.int/vaccine_safety/initiative/tools/vaccinfosheets/en/
  12. #Complications of Measles, 2018 https://www.cdc.gov/vaccines/pubs/pinkbook/meas.html
  13. #The Clinical Significance of Measles: A Review, 2004 https://academic.oup.com/jid/article/189/Supplement_1/S4/823958
  14. #Information sheet: Observed Rate of vaccine Measles Mumps and Rubella vaccines, 2014 https://www.who.int/vaccine_safety/initiative/tools/MMR_vaccine_rates_inform ation_sheet.pdf?ua=1
  15. #Do Vaccines Cause Autism?, 2019 https://www.historyofvaccines.org/content/articles/do-vaccines-cause-autism
  16. # Measles, Mumps, Rubella Vaccination and Autism: A Nationwide Cohort Study, 2019 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/30831578 https://annals.org/aim/fullarticle/2727208/further-evidence-mmr-vaccine-safet y-scientific-communications-considerations
  17. #A generalized reaction to thimerosal from an influenza vaccine, 2005 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15702823
  18. #Vaccination, 2018 https://ourworldindata.org/vaccination#how-vaccines-work-herd-immunity-and-reasons-for-caring-about-broad-vaccination-coverage
  19. The Antibiotic Apocalypse Explained : https://youtu.be/xZbcwi7SfZE
  20. The Coronavirus Explained & What You Should Do :https://youtu.be/BtN-goy9VOY
  21. Seputar Coronavirus#WHO advice for public: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public
  22. #WHO Q&A on coronavirus:https://www.who.int/news-room/q-a-detail/q-a-coronaviruses
  23. #Coronavirus Resource Center, 2020 https://www.health.harvard.edu/diseases-and-conditions/coronavirus-resource-center
  24. #Coronavirus disease (COVID-19) outbreak, 2020 https://www.who.int/westernpacific/emergencies/covid-19
  25. #Coronavirus Cases, total cases, worldometer, 2020 https://www.worldometers.info/coronavirus/coronavirus-cases/#total-cases
  26. #How it spreads, 2020 https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/prepare/transmission.html
  27. #How COVID-19 Spreads, 2020 https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/about/transmission.html
  28. #Strategies for Whole Lung Tissue Engineering, 2015 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4126648/
  29. #Virus Replication – An Introduction, 2003 https://www.nature.com/articles/pr198040
  30. # Pathology and Pathogenesis of Severe Acute Respiratory Syndrome, The American Journal of Pathology, 2007 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1829448/
  31. #Cell-Cell Communication Via Extracellular Membrane Vesicles and Its Role in the Immune Response, 2013 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3887950/
  32. # The balancing act of neutrophils, 2014 https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1931312814001450
  33. #The epidemiology and pathogenesis of coronavirus disease (COVID-19) outbreak, 2020 https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0896841120300469
  34. # T-cell mediated cytotoxicity, Immunobiology: The Immune System in Health and Disease, 2001https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK27101/
  35. #Report of the WHO-China Joint Mission on Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), 2020 https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/who-china-joint-mission-on-covid-19-final-report.pdf
  36. #Report of the WHO-China Joint Mission on Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), 2020 https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/who-china-joint-mission 
  37. -on-covid-19-final-report.pdf#Report of the WHO-China Joint Mission on Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), 2020 https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/who-china-joint-mission-on-covid-19-final-report.pdf 
  38. # Role of Lung Epithel Cells in Defense against Klebsiella pneumoniae Pneumonia https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC127765/
  39. #Modeling influenza epidemics and pandemics: insights into the future of swine flu (H1N1), 2009https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19545404
  40. #Preventing COVID-19 Spread in Communities, 2020 https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/community/index.html
  41. #Guidance, COVID-19: infection prevention and control guidance, 2020 https://www.gov.uk/government/publications/wuhan-novel-coronavirus-infectio n-prevention-and-control/wuhan-novel-coronavirus-wn-cov-infection-preventio n-and-control-guidance
  42. #Clean hands protect against infection, 2020 https://www.who.int/gpsc/clean_hands_protection/en/
  43. The Deadliest Being on Planet Earth – The Bacteriophage : https://youtu.be/YI3tsmFsrOg
  44. "Use of bacteriophages in the treatment of colistin-only-sensitive Pseudomonas aeruginosa septicaemia in a patient with acute kidney injury—a case report”, Stable URL: https://ccforum.biomedcentral.com/articles/10.1186/s13054-017-1709-y
  45. "28-9-1928: Antibiotik Penisilin Ditemukan”, Stable URL: https://www.liputan6.com/global/read/2111132/28-9-1928-antibiotik-penisilin-ditemuka n
  46. "Ahli: Antibodi Baru Muncul 2 Minggu Setelah Vaksin Covid-19”, Stable URL: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20210204194631-199-602469/ahli-antibodi- baru-muncul-2-minggu-setelah-vaksin-covid-19
  47. "Bagaimana Sistem Imunitas Membantu Tubuh Melawan Infeksi?”, Stable URL: https://health.kompas.com/read/2020/04/24/120149068/bagaimana-sistem-imunitas- membantu-tubuh-melawan-infeksi?page=all
  48. “Sebenarnya, Berapa Banyak Sel yang Ada Dalam Tubuh Manusia?”, Stable URL: https://hellosehat.com/sehat/informasi-kesehatan/jumlah-sel-tubuh-manusia/
  49. “Fakta! Ponsel Memiliki Bakteri 18 Kali Lebih Banyak dari Toilet”, Stable URL: https://hot.liputan6.com/read/4303897/fakta-ponsel-memiliki-bakteri-18-kali-lebih-ban yak-dari-toilet
  50. “Tiap 1 Cm Persegi Kulit Tangan ada 1.500 Bakteri”, Stable URL: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200306124732-255-481074/tiap-1-cm-p ersegi-kulit-tangan-ada-1500-bakteri
  51. “Virus corona: Berapa lama virus corona bisa bertahan pada permukaan?”, Stable URL: https://www.bbc.com/indonesia/vert-fut-51956329
  52. “Apa yang Terjadi pada Tubuh saat Pembekuan Darah Terjadi?”, Stable URL: https://www.halodoc.com/artikel/apa-yang-terjadi-pada-tubuh-saat-pembekuan-darah-terjadi “Vaksinasi Dapat Menyebabkan Autisme?”, Stable URL: https://www.alodokter.com/vaksinasi-dapat-menyebabkan-autisme 


Penulis : 
Kyan Widjaya



di Publikasikan tim Dokementasi dan Publikasi SMA Katolik Ricci 1 

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
MATERI LITERASI 1 : TOKOH

Literasi Ricci : Membaca Dunia Lewat SekolahPertemuan 1 Jenis : Sidang AkademikHari Tanggal : Kamis, 05 Agustus 2021Pemateri 1 : Andreas Purwo SantosoPemateri 2 : Danita TariganModerato

02/08/2021 19:26 - Oleh Administrator - Dilihat 71 kali
MENGENAL MATTEO RICCI LEBIH DEKAT

Pastor Matteo Ricci SJ atau lebih dikenal dengan Nama Matteo Ricci adalah seorang misionaris asal Italia yang lahir pada tanggal 06 Oktober 1552 di Macerata, kota di bagian Timur Italia

11/05/2021 13:07 - Oleh Administrator - Dilihat 179 kali
LITERASI SISWA/OPINION/Should Students Listen to Music while Studying?

Should Students Listen to Music while Studying? Albert Yulius Ramahalim/XI IPA 1   Many students, especially high school and university students, prefer to study and do assignments

22/04/2021 14:04 - Oleh Administrator - Dilihat 182 kali
Jalan Salib adalah Jalan hidup kita Memikul Salib : Refleksi Ibadah Jalan Salib SMA Katolik Ricci 1 Jakarta

Ibadat Jalan salib adalah Ibadah untuk mengenang dan melihat kembali perjalanan Yesus dalam memikul salib sejak dijatuhi hukuman mati hingga kematiannya di bukit Golgata dan dikuburkan.

19/03/2021 13:16 - Oleh Administrator - Dilihat 330 kali
LITERASI SISWA/ Tragisnya Penjajahan Sang ‘Saudara Tua’

Tragisnya Penjajahan Sang ‘Saudara Tua’** Oleh : Albert Yulius Ramadhan (kelas XI IPA   Sebelum Jepang memasuki masa Restorasi Meiji, Jepang merupakan suatu negara feod

16/03/2021 11:35 - Oleh Administrator - Dilihat 187 kali
Literasi Siswa/Perayaan Tahun Baru Imlek

PERAYAAN TAHUN BARU IMLEK Kata “imlek” muncul melalui proses serapan penduduk Nusantara terhadap istilah Hokkian “yin li” yang artinya kalender lunar. Imlek send

16/02/2021 11:39 - Oleh Administrator - Dilihat 138 kali
Apa Yang Menggerakkan Harga Saham Suatu Perusahaan Terbuka ?

 oleh Andreas Purwo Santoso   Beberapa waktu yang lalu, ada rekan penulis yang menanyakan kepada saya, "faktor apakah yang menggerakkan harga suatu saham? " Tulisan ini merupa

13/01/2021 07:33 - Oleh Administrator - Dilihat 179 kali
IN MEMORIAM ! Bapak Joseph Heru Eko Adi Putranto

IN MEMORIAM JOSEP HERU ADI EKO PUTRANTOOLEH : Robertus Supardjo "Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama”. Orang yang baik

11/12/2020 12:27 - Oleh Administrator - Dilihat 452 kali
LITERASI SISWA/KOMIK/ Penjelajahan Spanyol Ke Nusantara

KEDATANGAN BANGSA SPANYOL KE NUSANTARA (Hasil Pembelajaran Jarak Jauh kelas XI, Pelajaran Sejarah Indonesia)             d

10/11/2020 08:46 - Oleh Administrator - Dilihat 405 kali
IN MEMORIAM, BAPAK FRANSISKUS ASISI RISWANTO

  Menulis kenangan tentang seseorang yang kita cintai dan baru saja pergi menghadap Ilahi adalah sebuah pekerjaan yang teramat sulit. Kenangan hidup dan berkerja bersama dalam bila

30/10/2020 19:04 - Oleh Administrator - Dilihat 478 kali