• SMA KATOLIK RICCI I
  • Respect Integrity Caring Citizenship Initiative

MATERI LITERASI 2 : Fenomena Makanan Berlabel BTS : Hal Positif atau Konsumerisme ?

Literasi Ricci : Membaca Dunia Lewat Sekolah

 

Pertemuan 2 : Debat Literasi

 

Moderator : Marcel Rottebayan

Notulis  : Gery Pintoko

Doa Dan Dirigen : Roslinawati

Panelis Pro  : Andreas Purwoto dan Mira Aprilia

Panelis Kontra : Hokkop Fritles Nababan dan Gilby Fernando

Panelis ahli    : Berta Ike dan Maria Stepanie Liman

 

 

1. Argumentasi Pihak Pro

 

Fenomena Menu McDonald Berlabel BTS

Suatu Hal Positif dalam Ekonomi di Masa Pandemi

Andreas Purwo Santoso dan Mira Aprilia Putranti

(staff Pengajar SMA Ricci Jakarta)

  Pendahuluan

Beberapa waktu yang lalu terjadi fenomena yang cukup menggemparkan di sebagian penjuru dunia, termasuk juga di sebagian wilayah perkotaan di Indonesia, dimana menu makanan McDonald berlogo BTS habis terjual dan menyebabkan antrian yang panjang di outlet – outlet McDonald yang menjual menu tersebut. Beberapa orang berpandangan positif terhadap fenomena tersebut, sedangkan beberapa lainnya menilai negatif fenomena itu. Mereka yang menilai negatif tentang hal ini, berpendapat bahwa fenomena tersebut merupakan hasil dari konsumerisme  yang dilakukan McDonald dengan mempergunakan fans base BTS untuk menghasilkan keuntungan, mereka juga berargumen bahwa BTS dengan sengaja mengeksploitasi fans base mereka demi keuntungan pribadi.

 Makalah ini merupakan kajian dan sikap kami atas fenomena tersebut.

 1. Konsumsi Menggerakkan Mesin Ekonomi

Konsumerisme adalah suatu ide yang berpandangan bahwa peningkatan konsumsi atas barang dan jasa merupakan suatu keniscayaan yang harus dicapai di dalam pasar. Teori ini menilai bahwa kebahagiaan dan kesejahteraan seseorang diukur semata – mata dari tingkat konsumsi atas barang ataupun jasa. Ide ini selaras dengan pemikiran John Maynard Keynes (1883 – 1946), ekonom Inggris yang berpendapat bahwa pengeluaran seseorang untuk konsumsi adalah penggerak utama mesin ekonomi, dan tujuan utama dari kebijakan umum, seharusnya diarahkan untuk mendorong manusia agar mau membelanjakan uang yang mereka miliki. Menurut kacamata Keynesian, konsumerisme merupakan fenomena positif yang akan menggerakkan ekonomi suatu negara atau dunia untuk bertumbuh. Kaum Keynesian percaya bahwa semakin besar pendapatan seseorang, maka kemampuan seseorang untuk mengkonsumsi barang dan jasa akan meningkat, dan uang yang dikeluarkan oleh orang tersebut akan berpindah tangan kepada orang lain, dan menjadi pendapatan bagi orang yang menerimanya, demikian seterusnya siklus konsumsi akan terus mengalir, sehingga menghasilkan pertumbuhan ekonomi.

John Maynard Keynes adalah ekonom revolusioner pada masanya. Pada tahun 1919, ia berpendapat bahwa utang perang yang harus dibayarkan oleh Jerman kepada pihak sekutu sebaiknya dihapuskan, karena sangat kecil sekali kemungkinan bagi Jerman untuk membayar utang tersebut. Keynes berargumen bahwa kebijaksanaan yang diambil oleh sekutu akan mengakibatkan ekonomi Jerman menjadi hancur, dan akan menyebabkan resesi bagi seluruh Eropa yang bermuara pada perang besar berikutnya. Ia menuliskan teorinya dalam sebuah buku yang berjudul The Economic Consequences of the Peace.

 Keynes banyak terpengaruh oleh Alfred Marshall, guru besarnya di Cambridge University dalam membangun kerangka berpikir Ekonominya. Sebelum terjadinya depresi besar (1929 – 1939) Keynes menyoroti tingginya tingkat pengangguran di Britania Raya. Secara politik ia mendukung program Partai Liberal yang menyarankan kepada pemerintahan untuk membuka pekerjaan padat karya. Pekerjaan tersebut dapat menampung para buruh tambang, pekerja tekstil dan pekerja galangan kapal Inggris yang banyak menganggur.

 Pada saat terjadinya depresi besar, ia memberikan masukan kepada Presiden Amerika Serikat (AS), Franklin D. Roosevelt untuk tetap membuat neraca keuangan negara deficit. Hal tersebut ditujukan agar AS dapat mengeluarkan obligasi (surat utang) dengan bunga yang lebih tinggi daripada suku bunga deposito, sehingga orang – orang kaya berkenan memindahkan uang yang mereka miliki ke obligasi Negara. Tujuannya yaitu dapat dipergunakan untuk membuka lapangan pekerjaan padat karya, sehingga tingkat pengangguran menurun dan meyebabkan mesin ekonomi dapat berputar kembali.

 

  1. Nilai Keluarga Dalam Waralaba McDonald

McDonald (McD) adalah restoran cepat saji yang didirikan oleh Maurice dan Richard McDonald pada tahun 1948 di San Bernardino, California, Amerika Serikat. Pada masanya, restoran ini menjual hamburger seharga 15 sen, setengah dari harga para kompetitornya, dengan sistem pelayanan yang cepat dan self service. Model ini tidaklah lazim pada masa itu. Hal inilah yang menyebabkan Ray Kroc  tertarik untuk mengembangkan restoran ini menjadi restoran waralaba yang kita kenal sekarang. Waralaba McDonald pertama dibuka oleh Ray Kroc sendiri pada tahun 1955, dan pada tahun itu pula, ia mendirikan Perusahaan McDonald. Ia membeli McDonald dari kakak beradik Maurice dan Richard pada tahun 1961, dalam waktu singkat perusahaan ini berkembang pesat menjadi 1.000 outlet di penghujung dekade lima puluhan. Didorong oleh pertumbuhan yang pesat, pada tanggal 21 April 1965 perusahaan ini melepaskan sebagian sahamnya di bursa Nasdaq. Sejak saat itu sampai hari ini Mcdonald Corporation telah melakukan 12 kali pemecahan saham (stocksplit).

 Dewasa ini, McDonald memiliki 39.198 restoran yang tersebar di 120 negara yang mempekerjakan 200.000 orang karyawan di seluruh dunia. Diperkirakan 1,7 juta orang mendapatkan penghasilan baik langsung ataupun tidak dari rantai waralaba McD, serta melayani 70 juta orang di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri terdapat 200 restoran McD yang mempekerjakan 14.000 karyawan. Bagi para investornya, Mcdonald Corporation selalu membagikan dividen dengan jumlah yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

 Mcdonald memiliki visi selalu memberikan layanan yang terbaik bagi para konsumennya. Nilai – nilai keluarga juga ditekankan oleh restoran ini, oleh karena itu banyak outlet McD yang dirancang sebagai tempat berkumpul bagi keluarga. Restoran McDonald juga menyajikan menu – menu makanan yang dapat dinikmati konsumennya bersama teman dan keluarga. Oleh karena itu, ketika memilih public figure sebagai “duta” mereka, McD selalu memilih orang – orang yang memahami nilai – nilai  keluarga, pelayanan dan kerja keras, seperti Michael Jordan di era 90 – an dan juga BTS di tahun 2021. 

 Kerjasama dengan BTS ternyata mampu memperbaiki pemasukan McD yang menurun akibat pandemi Covid -19. Menu BTS Meal sendiri, mampu meningkatkan penjualan McDonald di tahun 2021. Di Amerika Serikat saja, penjualan McDonald meningkat menjadi 25,9% dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, bila dibandingkan dengan penjualan pada kuartal I tahun 2019 (masa sebelum pandemi) penjualan McD meningkat sebesar 14,9%. Secara global penjualan McD meningkat 40,5% dibandingkan tahun sebelumnya.

 BTS

Grup band pria  yang berasal dari Korea Selatan ini beranggotakan Kim Tae-hyung (V), Jung Ho-seok (J-Hope), Kim Nam-joon (RM), Kim Seok-jin (Jin), Park Ji-min, Jeon Jung-kook, dan Min Yoon-gi (Suga). BTS merupakan boy band Asia pertama yang menghebohkan industri musik dunia. Fenomena kehebohan BTS di Amerika Serikat disejajarkan dengan kehebohan yang ditimbulkan oleh The Beatles pada era 60 -an.

 Enam tahun yang lalu, ketika BTS mengeluarkan video music pertama mereka yang berjudul No More Dream pada bulan Juni 2013, tidak ada seorang pun yang meramalkan bahwa grup ini akan menguncang industri musik dunia. Dapat dikatakan perjalanan karir BTS jauh dari kata mudah. Tujuh anak muda dari Korea Selatan ini mengalami masa – masa sulit pada tahun – tahun awal perjalanan karir mereka.  Mereka harus berhadapan dengan EXO, Big Bang dan SHINee yang mendominasi tangga lagu K – Pop kala itu. Big Hit Entertainment, perusahaan rekaman tempat mereka bernaung pun bukanlah perusahaan rekaman yang besar, sehingga dari sisi dana dan koneksi, mereka kalah jauh bila dibandingkan dengan perusahaan rekaman lainnya. Pemasukan yang terbatas, tujuh anak muda ini hidup sederhana, mereka tinggal bersama di satu apartemen kecil yang mereka sewa. Tetapi kondisi yang sulit tersebut tidak menyurutkan semangat mereka, sebaliknya, hubungan mereka satu sama lain menjadi semakin dekat. Mereka bukan sekedar anggota suatu band, melainkan satu keluarga. Mereka besar bersama dan memiliki mimpi yang sama.

 Seiring berjalannya waktu, Big Hit Entertainment menemukan cara yang jitu untuk memperkenalkan BTS kepada masyarakat, yakni dengan menggunakan media sosial seperti Twitter dan Youtube. BTS termasuk grup band Korea pertama yang mengunggah keseharian mereka di kanal Youtube. Lambat laun apa yang telah mereka lakukan, membuahkan hasil.

 Dari sisi musikalitas, BTS memiliki kelas yang berbeda bila dibandingkan dengan grup band lainnya. Banyak lagu – lagu BTS yang menjadi hits ditulis atau diproduksi oleh anggota band itu sendiri, yakni oleh : J-Hope, Suga, dan RM. Di sisi lain lirik lagu yang dinyanyikan mereka, terutama di masa – masa awal karir mereka, mengusung tema yang berbeda bila dibandingkan dengan artis lainnya yang mengangkat tema cinta. Mereka justru mengangkat tema kritik sosial, suara anak muda generasinya, dan mengajak orang – orang muda untuk lebih mencintai diri mereka sendiri. Khusus tema yang disebutkan terakhir, mereka angkat sebagai jawaban atas keprihatinan mereka terhadap tingginya angka bunuh diri di kalangan anak muda.

 BTS juga sangat piawai dalam membangun ekosistem fans nya. Bisa dikatakan BTS dan Army (sebutan untuk kelompok fans BTS) tumbuh bersama, sehingga ada koneksitas positif yang terjalin di antara mereka. Hal inilah yang menyebabkan BTS mendapatkan kehormatan untuk berbicara di depan majelis umum PBB. Pada tahun 2018, mereka mengajak anak – anak muda untuk menemukan “suaranya sendiri”. Dua tahun kemudian, mereka diminta untuk berbicara atas nama Unicef, menyapa anak – anak dan kaum muda agar tetap tabah dan bersemangat dalam menghadapi pandemi Covid – 19, “walaupun kita merasa sendiri dan tak berdaya, ingatlah selalu akan hal yang menyatukan kita” kata mereka. BTS mengingatkan kita agar selalu dapat “mencintai diri kita sendiri”, seberat apa pun jalan yang sedang kita hadapi.

 Tidak sembarangan orang ataupun selibritas dunia yang mendapatkan kesempatan untuk berbicara di depan sidang majelis umum PBB. BTS mendapatkan kehormatan tersebut, karena mereka memiliki pengaruh positif bagi para penggemarnya. Salah satu contohnya terlihat dari kepedulian ARMY  Indonesia. Mereka beramai – ramai melakukan donasi bagi para pengemudi ojek online yang telah mendedikasikan waktu dan tenaga mereka untuk menunggu dan mengantarkan BTS Meal. Kompas mencatat hingga hari Jumat (11/6/2021) pukul 09.28 WIB, donasi yang berhasil dikumpulkan oleh ARMY Indonesia sebesar Rp. 252 juta.

 Kesimpulan

Berdasarkan sumber – sumber pustaka yang kami pelajari, kami berpendapat bahwa fenomena BTS Meal adalah fenomena yang positif, terutama di masa pandemi ini. Ketika pemasukan banyak perusahaan menurun di masa ini, McDonald berhasil meningkatkan penjualannya dengan berkolaborasi bersama BTS. Penjualan yang baik berarti memberi pemasukan yang baik bagi perusahaan, pada akhirnya berdampak positif juga bagi para pekerja dan investornya. Hal ini, sesuai dengan mazhab Keynesian yang mengatakan bahwa konsumsi yang meningkat akan menggerakkan mesin ekonomi, dan berujung pada meningkatnya kemakmuran masyarakat.

 McDonald adalah perusahaan yang mengutamakan nilai keluarga dan kerjakeras, hal inilah yang mereka lihat dalam sosok tujuh anak muda dari Korea tersebut. Apakah suatu perusahaan yang menitikberatkan pada nilai – nilai keluarga dan kerja keras akan mengeksploitasi fans base orang lain atas nama konsumerisme? Apakah anak – anak muda Korea tersebut yang bertahun – tahun hidup bersama, dan bertumbuh bersama fansnya akan rela mengeksploitasi fans base nya untuk kepentingan mereka pribadi? Kami yakin, jauh di dalam lubuk hati para pembaca, Anda sudah mengetahui jawabannya. Bahwa tujuh anak muda dari Korea tersebut, hanya sekedar berbagi kebahagian di era pandemi ini.

 Daftar Pustaka

https://corporate.mcdonalds.com/corpmcd/our-company/who-we-are/our-history.html.

https://edition.cnn.com/2021/07/28/business/mcdonalds-bts-meal-earnings/index.html. Chicken Sandwich and BTS Meal Helped Boost Mcdonald’s Sales oleh Danielle Wiener – Bronner, 28 Juli 2021.

https://edition.cnn.com/2019/06/01/asia/bts-kpop-us-intl/index.html. How A Boy Band From South Korea Became The Biggest In The World oleh Julia Hollingsworth, 9 Juni 2019.

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5661869/mcdonalds-untung-rp-32-t-berkat-bts-meal-ini-3-faktanya. Mcdonalds Untung Rp. 32 T Berkat BTS Meal Ini Faktanya oleh Anisa Indraini, 29 Juli 2021

https://kumparan.com/potongan-nostalgia/memutar-roda-ekonomi-dunia-abad-ke-20-ala-john-maynard-keynes-1vmSdOBG3oB. Memutar Roda Ekonomi Dunia Abad ke -20 ala John Maynard Keynes, 20 Mei 2021

https://mcdonalds.co.id/about#:~:text=Hingga%20saat%20ini%20PT.RNF,14.000%20karyawan%20di%20seluruh%20Indonesia.

https://www.britannica.com/biography/Alfred-Marshall. Alfred Marshall British Economist, 22 Juli 2021. 

https://www.britannica.com/biography/John-Maynard-Keynes. John Maynard Keynes British Economist, oleh Brian Duignan.

https://www.britannica.com/topic/McDonalds. McDonald’s American Corporation.

https://www.history.com/topics/great-depression/great-depression-history. Great Depression History.

https://www.investopedia.com/terms/c/consumptionfunction.asp. Consumption Function oleh Will Kenton dan Eric Estevez, 28 Juli 2020.

https://www.investopedia.com/terms/c/consumerism.asp. Consumerism oleh Adam Hayes, 18 Maret 2021.

https://www.kompas.com/hype/read/2021/06/11/102452666/donasi-army-indonesia-untuk-ojek-online-telah-terkumpul-rp-252-juta.

https://www.mashed.com/212709/this-is-the-most-famous-celebrity-who-worked-at-mcdonalds/. Michael Jordan Does Whatever It Takes In This McDonald's Training Video.

https://www.nasdaq.com/market-activity/stocks/mcd/dividend-history.

https://www.statista.com/statistics/819966/mcdonald-s-number-of-employees/.

https://www.unicef.org/lac/en/BTS-LoveMyself.






TANGGAPAN PENELIS KONTRA

 

Menghilangnya Jati Diri sebuah Bangsa : Sebuah Penjajahan Budaya dan Sosial dibalik Keuntungan Besar Mcdonalds yang berkolaborasi dengan BTS

Oleh :

Hokkop Fritles Nababan dan Gilby Fernando

 

Juni 2021, Di Tengah perang besar seluruh negara-negara di dunia melawan virus Covid-19 muncul sebuah fenomena sosial yang dipicu oleh sebuah Brand makanan cepat saji yang berkolaborasi dengan salah satu Boyband  Korea. Dalam hitungan jam setelah diumumkan di Indonesia, jagat dunia maya bertambah bising dari Kebisingan biasanya. Bukan hanya dunia maya, Aplikasi abang-abang ojek online juga sibuk melayani order yang masuk ke aplikasi mereka.

Kolaborasi ini melibatkan perusahaan makanan cepat saji Mcdonald atau yang akan disingkat MCD dengan BTS, sebuah kelompok penyanyi yang berasal dari negeri Korea Selatan. Menurut Laporan Harian Kompas tanggal 10 Juni 2021[1], Kolaborasi ini mengharuskan MCD merogoh kocek  10 Juta Won (128 Miliar Rupiah) untuk meletakan logo BTS di produk Makanan mereka, tentu harga yang sangat layak mengingat BTS memiliki Fanbase yang cukup besar dan militan di hampir seluruh Dunia.

Bagi MCd, tentu ini merupakan sebuah strategi bisnis yang menguntungkan di tengah turunnya penjualan mereka di seluruh dunia akibat Covid-19. Strategi ini memang sebuah oase bagi MCD di tengah teriknya tekanan selama pandemi. Bukan hanya di Indonesia, Konsep makanan berlabel BTS ini sukses juga diselenggarakan di berbagai Negara seperti India dan Malaysia. Dalam hal ekonomi dan sudut pandang MCD, ini merupakan sebuah hal positif bagi kemajuan ekonomi mereka.

Strategi Bisnis ini memicu persoalan di berbagai tempat di Indonesia, Penumpukan dan kerumunan para ojek online di banyak gerai MCD menjadi sangat berbahaya karena meningkatkan penyebaran virus Covid-19. MCD tidak siap dengan keadaan sehingga dengan terpaksa menutup beberapa tempat dan Menghentikan penjualan BTS Meal melalui aplikasi daring. Selain di Indonesia, Di Negara Lain juga menimbulkan masalah serupa meski tidak separah Indonesia. Di Singapura, peluncuran Produk ini ditunda karena pandemi.

 

  1.   MEMANDANG LEBIH JAUH

 Melihat tentang fenomena sosial ini, fokus utama seharusnya bukan pada analisis ekonomi semata. Dari Segi ekonomi, pemilik perusahan jelas menguntungkan termasuk didalamnya para pekerja atau usaha lain yang ikut mengalami perbaikan di tengah pandemi. Namun lebih jauh tindakan ini merupakan pertanda masifnya dan gagalnya kita berjalan bersama globalisasi. Tren luar atau budaya luar merusak kearifan lokal sudah terjadi di depan mata.

             Strategi Pemerintah Korea dalam menyebarkan budayanya ke seluruh dunia memang tidak main-main. Pada tahun 1998 ketika Korea dan seluruh Dunia mengalami krisis moneter, Korea Selatan Melakukan pinjaman ke IMF untuk mengatasi Masalah Ekonomi di Negaranya. Dari Pinjaman itu, sekitar 50 Triliun Rupiah digunakan Korea untuk memajukan industri Kreatif, termasuk musik, film, drama dan industri Hiburan lainnya. Dibentuknya badan Kreatif Korea juga berperan aktif dalam menyebarkan budaya korea  ke Luar Negeri, pemberian intensif pembuatan film, pemotongan pajak untuk industri kreatif membuat Korea secara cepat menjelma menjadi negara maju. Strategi Budaya inilah yang kemudian menarik industri Korea lainnya ikut berkembang. Melalui Film, Musik, Drama’ mereka memperkenalkan produk industri seperti mobil, alat elektronik, peralatan Rumah tangga [2]

             Gerakan ekspansi Budaya ini (Penulis menyebutnya Koreanisasi) berhasil. Jutaan won yang diinvestasikan pemerintah Korea di industri ini akhirnya menemukan masa bersua pada masa ini. Demam budaya Korea terjadi di banyak negara terutama di negara-negara Asia, walaupun pencinta industri Korea sudah Merambah ke seluruh Dunia.  Di Indonesia sendiri, pecinta hiburan asal negeri Ginseng sangat militan bahkan termasuk fanatik. Bukan hanya fans sebagai seorang idola dalam alam pikir, tetapi juga dalam gaya hidup. Mereka mengikuti gaya berpakaian, makanan dan pola hidup para artis Korea. Melihat Fenomena orang membeli produk makanan bukan karena butuh makanan atau produk yang jual tetapi karena brand atau karena orang yang menjadi bintang iklan bukan lagi fenomena Ekonomi. Ini Fenomena sosial dan budaya.

 

  1.   Konsumerisme kita adalah Masalah

Jika Harus memandang “pecah”nya penjualan MCD dengan kolaborasi BTS dari segi Ekonomi, Maka Konsumerisme adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan peta besar dari kejadian ini.  Menurut Baudrillard, Konsumerisme adalah sebuah tindakan mengkonsumsi sebuah barang atau jasa bukan pada pertimbangan kebutuhan, tetapi pada Keinginan, konsumsi mengutamakan simbol dan tanda[3]. Dalam kasus MCD dan BTS ini para pembeli BTS Meal bukan lagi berdasarkan atas dasar kebutuhan akan makanan yang ditawarkan tetapi berdasarkan Simbol-simbol BTS dalam makanan tersebut. Karena faktanya Produk yang ditawarkan pada makanan berlogo BTS tidak jauh berbeda dengan Produk pada Umumnya.

Sejauh mana Konsumerisme ini berdampak pada masyarakat ? Pada tahun 2020, FikrI Rahmaji, Dkk melakukan penelitian tentang Sifat konsumsi dari para fans Korea.  Hasil Penelitian itu kemudian diterbitkan dalam sebuah Jurnal berjudul Dampak Konsumerisme Budaya Korea (Kpop) Di Kalangan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Hasil Penelitian menunjukan sesuatu yang menarik, para mahasiswa yang menjadi objek penelitian itu mengalami gaya perubahan konsumsi semenjak menjadi pecinta Korea.

“Konsumtif yang dilakukan oleh penggemar K-pop dapat berupa pembelian Kpop Stuff yang meliputi album, photocard, baju, aksesoris, dan merchandise lainnya yang berhubungan dengan idol yang dikagumi oleh para penggemar K pop. Para penggemar Kpop melakukan perilaku konsumsi Kpop stuff didasarkan pada keinginan bukan kebutuhan. Hal ini dijabarkan oleh Baudrillard dalam teori konsumerismenya yang menyatakan bahwa rasionalitas dalam memenuhi kebutuhan tidak lagi didasarkan pada pemenuhan kebutuhan tetapi lebih mengarah pada pemenuhan keinginan”[4]

Perubahan perilaku konsumsi ini mengacu pada pemborosan. Konsumsi barang berdasarkan keinginan juga dapat memicu terjadinya kesenjangan sosial diantara sesama pecinta drama korea ini. Sehingga beberapa orang “memaksakan” diri untuk memiliki sesuatu yang berhubungan dengan Korea hanya karena ingin mengikuti tren atau takut dianggap berbeda dari kelompoknya.  Selain itu, di kalangan pecinta drama korea juga muncul pengkelasan sosial, orang yang mampu membeli barang dengan sentuhan bintang Korea menjadi masyarakat kelas Pertama dan yang tidak mampu membeli atas masyarakat kelas dibawahnya.

 Dalam Fenomena Kolaborasi ini, hampir dipastikan bahwa pembeli BTS Meal bukan didasarkan pada kebutuhan tetapi pada keinginan. Dan kejadian memaksakan BTS Meal untuk dibeli bukan sebuah kejadian yang mustahil terjadi.

 

  1.       Memandang Lebih Dalam

Seperti yang Penulis tuliskan diawal tulisan, Fenomena tentang Kolaborasi MCD dan BTS bukan hanya persoalan Ekonomi. Jauh lebih dalam dari itu adalah soal jatidiri bangsa.  Pernyataan ini bukan bermaksud untuk menghamili para pecinta hiburan Korea dengan label tidak nasionalis atau tidak punya identitas kebangsaan dalam arti harfiah. Hilangnya jati diri bangsa adalah kegagalan kita dalam tetap menjaga kebudayaan kita karena pengaruh masif budaya luar.

Dalam teori Herbert Schiller, hal seperti ini dimasukan kedalam teori Kolonialisme Digital[5]. Teori Kolonialisme digital adalah sebuah teori yang menyatakan bahwa Pengaruh budaya dari luar yang tersebar melalui media dapat memicu terjadinya perubahan sosial, seperti cara berpakaian, perilaku sosial, Keinginan dan hal lainnya. Perubahan ini dapat menggantikan budaya yang sudah ada terlebih dahulu atau berakulturasi dengan budaya tersebut.  Hal Mengkhawatirkan yang tersirat dari besarnya keinginan untuk memiliki dan membeli Produk yang dibungkus budaya korea ini adalah semakin meningkatnya kecintaan terhadap budaya luar dibandingkan dengan budaya dalam Negeri.

 

  1.   Kesimpulan

Fenomena tingginya antusias masyarakat Indonesia dalam  Membeli MCD yang berkolaborasi dengan BTS adalah sebuah Fenomena sosial dan Fenomena Ekonomi. Fenomena ini unik karena ditengah pandemi dan ditengah kecenderungan masyarakat Indonesia untuk menyimpan dan mengerem pengeluaran, strategi MCD tetap bisa untuk menembus keinginan-keinginan untuk berhemat itu. Dalam sudut pandang roda ekonomi, hal ini adalah sesuatu yang baik untuk menggerakan ekonomi kita yang memang berlandaskan pada konsumsi.

Tetapi Selain dari sudut pandang Ekonomi. Fenomena ini adalah indikator nyata bahwa masyarakat kita tengah mengalami kecanduan akan budaya luar. Kecanduan ini bukan hanya memicu hilangnya pengetahuan akan identitas budaya karena tergerus Budaya Korea yang mempengaruhi masyarakat tetapi juga mengubah perilaku baik perilaku pribadi, bermasyarakat dan berkonsumsi.  Cara berpakaian, menggunakan bahasa Korea dalam percakapan sehari-hari, membeli barang karena berhubungan dengan Korea bukan karena butuh (konsumerisme) adalah masalah paling pelik dari persoalan ini.

 Strategi meng-Korea-kan Dunia yang dilakukan oleh pemerintah korea harus diacungi jempol. Tinggal bagaimana kita dan negara untuk terus berupaya bukan hanya menjadi masyarakat konsumtif tetapi juga ikut berperan dalam industri yang sangat besar ini.

 

Daftar Pustaka

[1] https://money.kompas.com/read/2021/06/10/172833126/kolaborasi-dengan-mcd-lewat-bts-meal-bts-dapat-bayaran-rp-1278-miliar?page=all

[2] https://www.dw.com/id/k-pop-investasi-ekonomi-korsel-jadi-gerakan-sosial-dunia/a-57907912

[3] https://www.sosiologi.info/2020/08/teori-jean-baudrillard-contoh-masyarakat-konsumtif.html

[4] Rahmaji, Vikri, DKK. 2020. Jurnal. DAMPAK KONSUMERISME BUDAYA KOREA (KPOP) DI KALANGAN MAHASISWA FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI MALANG. Jurnal Humaniora- volume 21 nomor 1

[5] https://www.oxfordbibliographies.com/view/document/obo-9780199756841/obo-9780199756841-0209.xml

 

 

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Belajar Khotbah dan Bercerita tentang Benda/Hewan Kesukaan dalam Ekstrakurikuler Literasi

Sidang AkademiMateri Kelas X dan XI : Menceritakan Benda/Hewan Kesukaan Materi kelas XII          : Khotbah   Petugas Kelas X Moderator Sdri. Jomettaver

24/11/2021 15:35 - Oleh Administrator - Dilihat 192 kali
Investasi atau Pemborosan Ketika Membeli barang Limited Edition ? Mari kita Diskusikan

EKSTRAKURIKULER LITERASI : MEMBACA DUNIA LEWAT SEKOLAH   Tema :  Membeli Barang Edisi Terbatas : Suatu Investasi atau Pemborosan?   Petugas Kelas X Moderator Sdra.&nbs

17/11/2021 14:12 - Oleh Administrator - Dilihat 229 kali
BELAJAR PROMOSI DAN BEDAH BUKU DALAM EKSTRAKURIKULER LITERASI RICCI

BELAJAR PROMOSI DAN BEDAH BUKU DALAM EKTRAKURIKULER LITERASI RICCI Sidang Akademi   Materi :  Kelas X : Promosi Barang/Jasa Kelas XI : Promosi Barang Dan Jasa Kelas XII : Beda

10/11/2021 16:58 - Oleh Administrator - Dilihat 231 kali
BERDEBAT TENTANG TELEVISI : MASIKAH TEMAN KELUARGA INI BERTAHAN DI ZAMAN POST-MILENIAL ?

EKSTRAKURIKULER LITERASI MEMBACA DUNIA LEWAT SEKOLAH     PETUGAS KELAS X Moderator  Sdri. Shareen Alika (X.3) Notulis Sdri. Martha Marcella (X.3) Doa / Dirigen Sdr

03/11/2021 17:36 - Oleh Administrator - Dilihat 321 kali
BERBAGI INSPIRASI TOKOH IDOLA DAN PROMOSI DALAM SIDANG AKADEMI

EKSTRAKURIKULER LITERASI RICCI BERBAGI INSPIRASI TOKOH IDOLA DALAM SIDANG AKADEMIK   Petugas kelas X (Tema : Tokoh Idola) Moderator Sdri. Audrey Firshe ( X.3) Notulis Sdri . S

27/10/2021 12:59 - Oleh Administrator - Dilihat 240 kali
Adu Argumentasi Dalam Debat, Penggunaan Pakaian Bekas (Trifting) : Suatu Gaya Hidup Hemat, Benarkah ?

Penggunaan Pakaian Bekas (Trifting) : Suatu Gaya Hidup Hemat, Benarkah ? Debat LiterasiPetugas Kelas X Moderator Sdra. Khemawira Tjahya ( X.1) Notulis Sdra. Jonathan Valentino (X.1

20/10/2021 10:26 - Oleh Administrator - Dilihat 319 kali
BERCERITA KEGEMARAN DAN TOKOH IDOLA DALAM LITERASI

MATERI LITERASI 10 : HOBBY/KEGEMARAN (X,XI) DAN TOKOH IDOLA (XII)   SIDANG AKADEMI   Petugas : Kelas X  Materi : Hoby atau Kegemaran Moderator  Sdri. Chitra

13/10/2021 11:40 - Oleh Administrator - Dilihat 344 kali
BERCERITA TOKOH IDOLA DALAM SIDANG AKADEMI

MATERI LITERASI 9 : TOKOH IDOLA SIDANG AKADEMI   PETUGAS Moderator Sdr Theo Xavier A. W. (XI.1) Notulis Sdri. Celine Woen (XI.1) Doa / Dirigen Sdr. Thomas Alfiantino (XI.1)

29/09/2021 12:34 - Oleh Administrator - Dilihat 303 kali
Materi Literasi 8 : E-COMMERCE : E - Commerce suatu solusi dalam sistem perdagangan ataukah menghasilkan sistem pasar yang monopolistik.

LITERASI RICCI : MEMBACA DUNIA LEWAT SEKOLAH     PETUGAS :    Moderator Sdri Gracella Kurniawan (XII.3) Notulis Sdr. Elvina Budisartono (XII.3) Doa / Dirigen

21/09/2021 11:39 - Oleh Administrator - Dilihat 307 kali
MATERI LITERASI 7 : FILM DOKUMENTER

MATERI LITERASI 7 : Film Dokumenter  LITERASI RICCI ; MEMBACA DUNIA LEWAT SEKOLAH MATERI LITERASI 7   PETUGAS :  Moderator Sdri Elvira Budisartono (XII.3) Notulis Sd

14/09/2021 08:38 - Oleh Administrator - Dilihat 220 kali