Study Tour Kelas X Tahun 2019

Berbicara mengenai kegiatan SMA Ricci I, tentunya tak akan lepas dari kegiatan karyawisata. Setiap tahunnya, para peserta didik kelas X hingga XII akan belajar maupun berekreasi di lingkungan luar sekolah. Khususnya untuk kelas X tahun ini, diadakanlah study tour di tempat-tempat sekitar Jakarta untuk menunjang pembelajaran dalam kelas sekaligus memberi variasi cara belajar bagi siswa-siswi.

Study tour ini dilaksanakan pada hari Rabu, 16 Oktober dan Kamis, 17 Oktober 2019, dua minggu sehabis Penilaian Tengah Semester. Pada hari pertama, para peserta dijadwalkan akan mengunjungi dua museum, yakni Museum Bank Indonesia dan Museum Bahari, serta Pabrik PT Sinar Sosro. Pada hari kedua, siswa-siswi akan menghadiri pameran temporer yang dilaksanakan di Soka Gakkai Indonesia. Sebelum kegiatan dilaksanakan, kami selaku peserta study tour diberikan pengarahan (briefing) akan jadwal kegiatan serta barang-barang yang harus dibawa. Pengarahan dilaksanakan satu hari sebelum tour oleh para guru pendamping, di antaranya Ibu Maria Stephanie, Frau Mira A., Ibu Herny Lesmana, Bapak Setyo Usodo, Bapak Riswanto, Bapak Hokkop F. Nababan, dan Bapak Gilby Fernando.

Pada Rabu pagi, sekitar pukul 06.30, semua peserta dan guru pendamping berkumpul di SMA Ricci terlebih dahulu untuk mengikuti apel serta absensi. Sebagian dari kami berangkat dengan bus, dan sebagian lagi dengan elf milik Yayasan Ricci, ke destinasi pertama yaitu Museum Bank Indonesia. Perjalanan cukup singkat, hanya sekitar sepuluh menit

Di depan pintu masuk museum, kami berkumpul dalam satu rombongan besar bersama guru-guru pendamping. Tak lama kemudian, kami dibagikan tiket dan diarahkan masuk. Setelah melalui pemeriksaan keamanan, kami dikenalkan dengan pemandu wisata Museum Bank Indonesia. Sayangnya, saat itu hanya ada satu orang pemandu untuk seluruh peserta.

Sebelum menelusuri setiap sudut museum dengan teliti, kami diberi sedikit informasi mengenai Bank Indonesia oleh pemandu. Seusainya, kami masuk ke ruang teater untuk menyaksikan film singkat tentang sejarah perbankan di Indonesia. Setelah itu, barulah kami berkesempatan untuk menjelajahi ruangan-ruangan di dalam museum.

Seiring kami mengelilingi museum, pemandu kami turut menjelaskan lebih detail mengenai setiap infografis yang kami temui. Ruang-ruang museum ini dirangkai secara berurutan dari masa lampau hingga masa kini. Pada awalnya, kami menyaksikan sejarah perdagangan rempah-rempah pada masa pendudukan Portugis dan Belanda di Indonesia, dilanjutkan dengan sejarah pendirian bank sentral pada zaman Belanda dan Jepang. Setelah itu, dibahas pula tentang naik turunnya perekonomian Indonesia sejak kemerdekaan hingga sekarang.

Sang pemandu kemudian mengajak kami ke luar ruangan agar kami dapat menikmati pemandangan taman dari atas. Di tempat ini juga kami diberi kesempatan untuk mewawancarai pemandu terkait Museum Bank Indonesia. Museum ini awalnya merupakan gedung Bank Indonesia yang sekarang pindah ke daerah Thamrin. Bangunan ini pun difungsikan sebagai museum pada tahun 2006 oleh Gubernur Bank Indonesia saat itu, Burhanuddin Abdullah.

Setelah sesi tanya jawab bersama pemandu, kami masuk ke bagian utama museum ini, yaitu ruang koleksi numismatik mata uang dari berbagai negara serta ruang pameran emas. Sayang sekali, kami tidak dapat menjelajahi keseluruhan museum karena keterbatasan waktu. Sehabis berfoto bersama, kami pun meninggalkan museum ini menuju Jakarta Utara untuk mengunjungi Museum Bahari.

Hari sudah siang ketika kami tiba di Museum Bahari. Di bawah panas matahari, kami kembali dikumpulkan per kelas untuk berkenalan dengan kakak-kakak pemandu museum tersebut. Setiap kelas didampingi seorang pemandu serta seorang guru.

Tanpa menunggu lama, kami segera menjelajahi Gedung A. Dalam area Museum Bahari terdapat tiga gedung, yakni Gedung A, B, dan C. Dalam Gedung A ini dipaparkan mengenai kapal-kapal dari era tradisional hingga modern, lengkap dengan cara pembuatan kapal dari masing-masing daerah di Indonesia. Selain itu, ada pula ruang pameran sejarah Kota Batavia dan Si Pitung, salah satu tokoh cerita rakyat Betawi yang terkenal. Dalam ruang ini disediakan tempat membaca buku-buku yang berkaitan dengan Batavia.

Saat di Gedung B, kami langsung menuju ruang biota laut yang terletak di lantai atas. Ruangan ini sebagian besar terdiri atas awetan hewan dan tumbuhan laut Indonesia. Di ruang ini kami diberi kesempatan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada kakak pemandu mengenai sejarah pendirian museum ini. Pada awalnya, museum ini merupakan gudang penyimpanan rempah-rempah oleh Pemerintah Kolonial Belanda dan VOC. Setelah Indonesia merdeka, gedung ini berpindah tangan beberapa kali sebelum akhirnya menjadi museum yang kita kenal sekarang.

Lantai atas Gedung C terbagi menjadi beberapa bagian. Salah satunya perpustakaan yang sayangnya tidak dapat kami kunjungi. Bagian lain berisi maneken tokoh-tokoh penjelajah dunia yang berperan dalam kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia. Ada pula balkon tempat kami berfoto bersama.

Kami juga menaiki menara yang terletak tak jauh dari pintu masuk. Untuk mencapai puncak menara, kami harus melalui delapan rangkaian tangga. Untungnya, tidak ada yang takut ketinggian di antara kami.

Tujuan berikutnya adalah Pabrik PT Sinar Sosro yang terletak di daerah perbatasan Jakarta-Bekasi, yaitu di daerah Cakung. Perjalanan ke sana lebih singkat dari yang diperkirakan karena jalanan dalam kondisi lancar. Begitu sampai, kami disuguhi sebotol Teh Botol oleh para pegawai PT Sinar Sosro. Setelah beristirahat sejenak, kami dikumpulkan dalam auditorium untuk diperkenalkan dengan PT Sinar Sosro secara umum serta diberi informasi mengenai proses pembuatan maupun sejarah Teh Botol Sosro melalui video. Di samping itu, juga diperkenalkan berbagai macam produk PT Sinar Sosro.

Selanjutnya, kami meninjau pabrik di basement, namun sebelumnya kami diberi topi pelindung dan diajak berfoto. Kami dituntun seorang pemandu yang menjelaskan proses produksi teh. Sungguh disayangkan bahwa salah satu bagian pabrik sedang dalam perbaikan sehingga tidak dapat kami kunjungi.

Seusai berkeliling pabrik dan disuguhi teh untuk kedua kalinya, kami digiring kembali ke auditorium untuk sesi tanya jawab. Sesi tersebut berlangsung cukup lama karena banyaknya pertanyaan yang kami ajukan. Sebagai penutup, kami masing-masing diberi beberapa kotak minuman teh untuk dibawa pulang. Sekitar pukul tiga sore kami memulai perjalanan kembali ke Sekolah Ricci.

Esok harinya, setelah mengikuti satu jam kegiatan belajar, kami berangkat dengan bus ke gedung Soka Gakkai Indonesia. Pada saat itu, sedang diselenggarakan pameran temporer di sana. Pameran tersebut terpusat pada Sutra Bunga Teratai, salah satu sutra Buddhis yang terkenal sebagai dasar pembentukan sekte agama Buddha Tiantai dan Nichiren. Pameran ini juga dilengkapi dengan berbagai artefak penyebaran agama Buddha di dunia serta terjemahan Sutra Bunga Teratai dalam berbagai bahasa, yang didatangkan dari koleksi di India, Rusia, Tiongkok, dan negara-negara lain. Pameran ini bergilir setiap tahunnya di berbagai negara.

Tentunya study tour tidak lepas dari tugas yang diberikan oleh guru-guru. Tugas-tugas tersebut adalah membuat bermacam-macam laporan. Topiknya bervariasi, mulai dari proses pembuatan kapal untuk tugas Fisika, pengolahan serta penanggulangan limbah untuk tugas Biologi dan Geografi, hubungan perusahaan dengan konsumen, produsen, dan pemerintah untuk tugas Ekonomi. Tak ketinggalan pula tugas Sejarah untuk membuat vlog di museum.

Karyawisata tahun ini cukup istimewa karena dilaksanakan selama dua hari berturut-turut. Dengan beragamnya tempat yang kami kunjungi, tentunya dapat memperluas wawasan serta menambah pengetahuan dan pengalaman. Tidak sia-sia kami mengikuti rangkaian kegiatan study tour ini. Semoga pelaksanaan study tour untuk tahun-tahun berikutnya akan lebih baik lagi.

Ditulis oleh Albert Yulius Ramahalim