• SMA KATOLIK RICCI I
  • Respect Integrity Caring Citizenship Initiative

Literasi Siswa/Perayaan Tahun Baru Imlek

PERAYAAN TAHUN BARU IMLEK

Kata “imlek” muncul melalui proses serapan penduduk Nusantara terhadap istilah Hokkian “yin li” yang artinya kalender lunar. Imlek sendiri merupakan perayaan yang diperingati dan dirayakan keturunan Tionghoa di mana pun, termasuk di Indonesia. Perayaan ini berasal dari China yang dikenal dengan nama pesta musim semi (chun jie). Dalam pesta ini ditampilkan berbagai pertunjukkan seperti barongsai dan naga-nagaan yang terbuat dari kertas. Di China, masyarakat akan memasang spanduk beraneka warna dan menyalakan kembang api. Biasanya Imlek akan berlangsung selama 15 hari dengan hari terakhir disebut sebagai Cap Go Meh atau hari penutup tahun baru. Uniknya, penyebutan nama “imlek” ini hanya digunakan di Indonesia saja.

Ada beberapa pendapat mengenai asal mula perayaan Imlek. Pertama perayaan Imlek dikaitkan dengan dimulainya musim semi di China atau disebut juga Cun, sehingga pada hari tahun baru China itu mengucapkan selamat dengan “Sin Cun Kiong Hi”. Terlebih setiap tanggal 15 dari tiap bulan tahun imlek adalah bulan purnama. Realita tersebut sangat membantu petani dan nelayan untuk melihat situasi untuk bercocok tanam atau pergi ke laut. Pendapat kedua yaitu awal Imlek dikaitkan dengan kisah Giok Hong Siang Tee yang menitis ke muka bumi dan menjadi seorang raja. Ketiga adalah hari lahirnya Bi Lek Huda atau O Mi To Hud atau A Mi Tou Fo yang berarti Buddha. 

Perayaan Imlek identik dengan warna merah, emas, dan kuning. Warna-warna tersebut terdapat pada semua dekorasi dan pakaian Imlek. Mengapa warna merah, kuning dan emas ini selalu mendominasi? Perlu diketahui bahwa merah memiliki arti warna panas, warna matahari, dan api yang diharapkan dapat memberikan suasana kebahagiaan. Sera-serbi warna merah saat Imlek menggambarkan pengharapan di tahun baru. Harapan lainnya, segala kesedihan dan kegelapan akan sirna digantikan dengan kebahagiaan. Menurut seseorang yang mempraktekkan feng shui tradisional, sekaligus penulis buku ‘78 Tips Menambah Hoki Anda’, Suhana Lim, mengatakan bahwa selain memiliki makna kebahagiaan, warna merah juga menjadi simbol dari kebaikan hati, kebenaran, dan ketulusan hati. Bunyi karakter merah (hong) identik dengan karakter makmur. Oleh sebab itulah warna merah juga menjadi warna yang digemari orang Tionghoa, terutama dalam merayakan Imlek. Sama halnya dengan warna merah, warna kuning dan emas juga dianggap melambangkan kemakmuran dan diharapkan bisa membawa aura positif.

Menjelang Imlek ada beberapa tradisi yang dilakukan orang Tionghoa untuk merayakan tahun baru. Membersihkan rumah dan aktivitas beres-beres harus selesai ketika tengah malam sebelum Imlek. Hal ini penting bagi orang Tionghoa karena selain menyambut saudara, tetangga, dan rekan yang datang, membersihkan rumah dapat membuang kesialan tahun sebelumnya. Bagi orang Tionghoa yang menganut kepercayaan Konghucu, sembahyang leluhur lazim dilakukan sehari sebelum Imlek. Sembahyang leluhur dilakukan dengan memberi persembahan makanan yang terdiri dari buah, kue, dan daging, serta minuman seperti teh dan arak. Selain sembahyang leluhur, sembahyang ke klenteng juga dilakukan yang bertujuan untuk memanjatkan syukur sekaligus meminta perlindungan di tahun baru. Malam sebelum Imlek diadakan makan bersama keluarga dengan berbagai hidangan khas peranakan Tionghoa-Indonesia yang disajikan. 

Hari pertama biasanya keluarga saling mengunjungi. Lazimnya anggota keluarga yang berusia muda akan berkunjung ke anggota keluarga yang usianya lebih tua. Silaturahmi dilakukan dengan memberi salam Gong Xi Fa Cai sambil mengepalkan tangan kanan di dada lalu dibungkus dengan telapak tangan kiri sebagai tanda penghormatan. Ucapan “Gong Xi Fa Cai” merupakan doa tentang kemakmuran yang memiliki arti “semoga kekayaan anda semakin banyak”. 

Selesai memberi salam, orang yang sudah menikah akan memberikan angpao kepada orang yang belum menikah. Angpao merupakan bingkisan dalam amplop merah berisikan sejumlah uang. Jumlah nominal yang diberikan dalam angpao tidak boleh ada angka 4 atau angka ganjil. Karena angka 4 berarti mati dan angka ganjil sering dianggap sebagai angka sial. Pernikahan dianggap sebagai batas kedewasaan seseorang, tetapi bagi orang dewasa yang belum menikah masih boleh menerima angpao yang dianggap dapat memberi nasib baik termasuk jodoh.







#Tulisan ini adalah Karya  Jurnaling kelas XI-1 dalam Lomba Perayaan IMLEK di SMA Katolik Ricci 1 Jakarta pada tanggal 15 Februari 2021
#dipublikasikan tim Humas PPSK 57

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
KURUKULUM MERDEKA BELAJAR : Antara Harapan dan Utopia Sebuah Tinjauan Berdasarkan Teori Darmaturgi

KURUKULUM MERDEKA BELAJAR :Antara Harapan dan Utopia Sebuah Tinjauan Berdasarkan Teori Darmaturgi Oleh : Marsell Rettobyaan (staf Pengajar) ABSTRACT Dunia pendikan tak pern

18/06/2022 14:08 - Oleh - Dilihat 217 kali
Cara Baru dan Mudah Membuat dan Menilai Lembar Aktivitas Siswa di Masa Pandemi.

Cara Baru dan Mudah Membuat dan Menilai Lembar Aktivitas Siswa di Masa Pandemi Oleh : Mira Aprilia ( Staf Pengajar)   Covid- 19 memang mengharuskan kita membatasi seluruh kegiat

18/06/2022 14:03 - Oleh - Dilihat 357 kali
MODUL SEBAGAI ALAT BANTU PEMBELAJARAN MATEMATIKA

MODUL SEBAGAI ALAT BANTU PEMBELAJARAN MATEMATIKA oleh : Andreas Purwo Santoso staff pengajar SMA Katolik Ricci   Kurikulum merdeka yang mulai diterapkan tahun ajaran depan, men

18/06/2022 13:01 - Oleh - Dilihat 224 kali
Boneka Arwah dalan Debat Literasi

Debat Literasi  Kelas XI      Petugas :    Moderator Jessica Tivanka (XI.1) Notulis Theo Xavier (XI.1) Doa / Dirigen Natasya Lie (

11/05/2022 08:58 - Oleh - Dilihat 476 kali
Mengatasi Masalah dalam Organisasi atau Perusahaan : Sidang Akademik

Mengatasi Masalah dalam Organisasi atau Perusahaan Sidang Akademik   Petugas :            Bahan Bacaan Bahan Bacaan Kelas XI Sidang Akademi

20/04/2022 08:52 - Oleh - Dilihat 196 kali
Laki-Laki tidak Boleh gondrong di Sekolah : Rapi atau Ketidakbebesan Berekspresi ?

Pelajar Pria Boleh Gondron Debat Literasi kelas X   Petugas  Moderator Carlyn Notulis Kenneth Hindra Doa Maria Nikita Laurencia Panelis Pro Bryan,

20/04/2022 08:24 - Oleh - Dilihat 3310 kali
Masihkah Batubara Menjadi Bahan Bakar yang layak digunakan ?

Masihkah Batubara Menjadi Bahan Bakar yang layak digunakan ?   Debat Literasi Kelas XI Panelis Kontra Pemakaian Batubara Sebagai Sumber Energi Harus Dihentikan Oleh: Cecilia

13/04/2022 08:09 - Oleh - Dilihat 784 kali
“Hosana Putera Daud” Minggu Palma : Pemaknaannya dalam Terang Iman Kristiani

“Hosana Putera Daud” Minggu Palma : Pemaknaannya dalam Terang Iman Kristiani oleh :  Yulius Gery Pintoko, S.Fil (Staf Pengajar SMA Ricci 1)   Minggu Palam me

10/04/2022 12:29 - Oleh - Dilihat 320 kali
Review Film Dalam Sidang Akademi

Review Film Dalam Sidang Akademi Sidang Akademi Kelas X   Petugas -   Bahan Bacaan Bahan Bacaan Sidang Akademi kelas X           *Tulisan

06/04/2022 08:34 - Oleh - Dilihat 278 kali
Metaverse : Alam Khayalan yang Menjadi Nyata

Metaverse : Alam Khayalan yang Menjadi Nyata Debat Literasi Kelas XIPetugas -   Bahan Bacaan Debat Literasi Kelas XI **   Bahan Bacaan Debat Literasi    

06/04/2022 08:27 - Oleh - Dilihat 223 kali